Toko Buku Online Terlengkap
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Sukses. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

Asri Tadda ( Dokter Yang Sukses Di Bisnis Internet Marketing )

| Senin, 16 Januari 2012 | 2 komentar


Kalau bicara soal bisnis internet marketing, pasti kita berfikir mereka yang bergelut di dunia tersebut adalah lulusan atau orang yang berprofesi di bidang komputer, informatika, multimedia dsb. Tapi Kalau kita mendalami lebih luas mengenai orang - orang yang sukses di bidang internet marketing ada beberapa bahkan banyak yang berprofesi diluar bidang yang berbasis komputer dan komunikasi.

Ketika saya mendengarkan Audio Book dari buku "7 Keajaiban Rezeki", ada salah satu pembicara yang sukses dibidang internet marketing dan profesinya adalah jurusan KEDOKTERAN.

Berikut informasi tentang kisah sukses beliau yang bagi saya sangat menginspirasi diri saya sendiri.

Tidak ada yang istimewa dari sosok Asri Tadda. Sepintas, ia terlihat seperti anak muda pada umumnya yang doyan mengobrol, penuh semangat dan energik. Tapi, jangan salah, di balik penampilan sederhananya, ia merupakan salah satu pengusaha muda yang sudah membuktikan kepiawaiannya dalam berbisnis.
Bahkan, Asri meraih penghargaan sebagai pemenang kedua tingkat nasional kategori pengusaha muda Mandiri dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2008. Ini merupakan ajang tahunan yang diadakan PT Bank Mandiri Tbk untuk mendorong wirausaha di kalangan anak muda.

Kini, Asri sukses memimpin dan mengelola AstaMedia Group yang bermarkas di Makassar. Perusahaannya ini membawahi sejumlah cabang usaha, yang bergerak di bidang online marketing.

Asri mempunyai ratusan blog. Salah satunya, www.astamediagroup.com. Bisnis Asri meliputi penjualan iklan per klik di dalam blog, optimalisasi search engine, dan jual beli artikel online.

Tapi, setahun belakangan, Asri juga mulai mengembangkan bisnis konvensional sebagai pendamping bisnis utamanya yang berada di dunia kasat mata ini. Antara lain, bisnis kafe dan membuka sekolah.

Sukses Asri tidak dibangun dalam sesaat. Pemuda kelahiran Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan itu mengaku membangun bisnisnya dari nol. Kendati lahir dari keluarga mampu, Asri dikenal sebagai sosok anak muda yang Mandiri. Hasratnya untuk Mandiri tampak sejak remaja. Setamat pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Malili, Asri memilih merantau ke Kota Makassar untuk menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Umum-nya (SMU). Jadi, ia sudah mulai merasakan betul terbatasnya uang bulanan kiriman orang tuanya.

Setamat SMU tahun 1999, Asri berhasil masuk ke jurusan Kedokteran Umum di Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas). "Bukan main bangganya orang tua saya melihat saya menjadi calon dokter," tuturnya kepada Aprilia Ika dari Kontan.

Tapi dasar Asri, ia tidak kerasan hanya duduk diam menuntut ilmu. Ia malah aktif mengikuti seabrek kegiatan organisasi intra kampus, serta mengikuti organisasi kepemudaan lainnya. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakul-tas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2001-2002. Pada masa yang sama, ia juga menjabat sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Kedokteran Unhas, serta Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur.

Sebagai aktivis mahasiswa dengan seabrek kegiatan, Asri Tadda memanfaatkan aneka jabatannya untuk menulis opini di beberapa koran derah di Makassar. Dalam sebulan, ia bisa dua kali menulis untuk koran daerah. Hasilnya lumayan, ia bisa menambah uang saku sebanyak Rp 500.000 sampai Rp 800.000 sebulan. "Uang itu benar-benar saya butuhkan. Karena biaya kuliah saya di Kedokteran Umum sangat mahal," ujar Sarjana Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar (Unhas), Sulawesi Selatan ini.

Dari rajin menulis opini inilah, Asri Tadda berkenalan dengan dunia internet. Salah satu hal yang menarik minatnya adalah dunia online marketing. Gara-gara online marketing, Asri Tadda sempat menjadi orang asing bagi kawan-kawan seangkatannya. "Waktu itu, tahun 2005 saya masih kerja praktek. Saya sering ngabur," ujarnya.

Beruntung, Asri adalah pemuda berotak encer. Sehingga, walaupun sering kabur dari praktikumnya, ia tetap mendapat nilai yang baik.

Asri juga tak asal membolos. Ia memilih warnet sebagai tempatnya membolos. Di warnet-warnet di kota Makassar inilah, Asri belajar online marketing secara otodidak selama dua tahun. Tetapi konsekuensinya, para penjaga warnet sering sebal dengan ulahnya yang sering memanfaatkan happy hour. "Awalnya, saya iseng bikin blog pribadi untuk mencatat aneka opini yang sudah dimuat di koran," ujar pria kelahiran Malili, 28 tahun silam ini.

Tapi, keisengannya berlanjut. Dia sering menemui artikel yang membicarakan bagaimana seseorang mendapat banyak duit dari internet. Tergiur, Asri pun mulai mencobanya.

Mengawali langkahnya, Asri belajar mengenai blog advertising dan membuat blog advertising dari blog gratis. Dalam suatu kesempatan, blog advertising-nya mendapat uang US$ 400 dari iklan per klik Google Adsense. "Uangnya untuk mentraktir teman yang mencibir usaha saya," kenang tertawa kecil.

Setelah itu, barulah Asri mengenal cara berjualan artikel secara online dan cara menjual link (tautan) website lainnya. Akhirnya, lewat berjualan link, ia mendapat US$ 100. Dari uang ini, Asri membayar jasa hosting seharga US$ 95 serta domain US$ 10. Maka, Asri resmi berpindah dari blog gratis ke blog profesional. "Tantangan terbesar saya saat itu, saya tidak tahu marketing dan bahasa Inggris pas-pasan," ujarnya.

Toh, Asri nekat. Dia lalu mendirikan usaha jual beli artikel secara online bernama Article Trade. "Kami menyediakan artikel umum bahasa Inggris. Ada ratusan penulis yang bersedia menjalin rekanan dengan saya," ujarnya.

Hasilnya lumayan. Sehari bisa laku 50 artikel. Padahal artikel sepanjang 200 kata saja sudah bisa dibanderol harga US$ 5. "Untuk fee penulis US$ 2, masuk saku saya US$ 3," papar Asri.

Asri punya ratusan blog advertising yang ia kelola bersama beberapa teman. "Omzet saya sekitar Rp 100 jutaan per bulan," ujarnya.

Sukses berjualan link dan artikel online membuat Asri Tadda semakin mantap melebarkan sayap bisnisnya. Kini, selain punya 10 jenis layanan bisnis online lainnya, Asri mendirikan sekolah blogging pertama di Asia. Tahun 2008 merupakan tahun keemasan bagi Asri Tadda. Pemuda asli Malili, Sulawesi Selatan, ini tampil sebagai juara kedua ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tingkat nasional.

Keberhasilannya tersebut semakin memicu semangatnya. Dia ingin membuka mata masyarakat bahwa bisnis online merupakan salah satu usaha yang terhormat dan bisa membuka lapangan pekerjaan, seperti halnya bisnis dagang biasa.

"Selain percaya diri saya meningkat, saya juga banyak mendapat inspirasi usaha setelah mengikuti WMM," ujar Asri yang kini fasih berbahasa Inggris ini. Inspirasinya terwujud dalam dua jalur pengembangan bisnis, yakni bisnis online dan bisnis offline alias bisnis konvensional. Keduanya berada di bawah bendera holding AstaMedia Group.

Untuk bisnis online, Asri, mengembangkan ratusan blog yang sudah ada. "Kalau dulu sebelum WMM baru 100 blog, kini sudah 250 blog advertising," ungkapnya. Kebanyakan blog Asti membahas seputar dunia kesehatan atau medis. "Fokus sasaran saya memang untuk klien-klien yang punya bisnis di industri kesehatan," ujarnya.

Selain itu, jasa layanan online Asri bertambah. Kini ia juga merambah ke bisnis search engine optimization (SEO). SEO sendiri merupakan software yang bisa membuat sebuah situs web bisa tampil di halaman muka situs pencarian Google.

Untuk jasa SEO, Asri punya dua layanan, yaitu SEOSEMID Inc. untuk website non medis dan SEOMeds untuk website medis. "Omzet untuk SEOMeds saja, November ini saya dapat US$ 60.000," ujarnya.

Dari jumlah itu, keuntungan Asri sekitar 50%. Asri menyimpulkan, lebih spesifik layanan yang ia buat, akan lebih kena ke bisnis klien. Sehingga, "Semakin banyak pula uang yang didapat," imbuhnya.

Tak hanya itu. Asri masih mempunyai layanan iklan baris dan layanan internet marketing. Antara lain Iklan Baris Terbaru, Iklan Baris Makassar, Iklan Baris Terkini, dan Pasang Iklan Baris. Terakhir, layanan Astalog.com, yang merupakan layanan kurikulum pendidikan bagi murid sekolah blogging miliknya. Total jenderal, dalam sebulan, Asri bisa meraup omzet sekitar Rp 300 juta dari bisnis online. Padahal, dia hanya dibantu sekitar 13 karyawan.

Pelajaran yang mungkin dapat kita teladani dari beliau adalah segala sesuatu yang baik dan positif pasti kita raih jika kita fokus, terus belajar dan take action !!
 
Peluang untuk sukses selalu ada jika kita mau memanfaatkannya. .
 
Tidak ada kata gagal yang ada hanya belajar..

Readmore..

Hendy Setiono (Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi)


Ada yang suka makan kebab?? Pasti tidak asing dengan kebab turki baba rafi. Awalnya sih saya hanya iseng beli karena penasaran tapi lama - lama ketagihan. Muncul dibenak saya ingin mengetahui tentang usaha kebab turki baba rafi ini, dan ternyata kebab baba rafi ini adalah waralaba terbesar di Indonesia dan yang buat saya terkejut pemiliknya masih sangat muda dan juga menikah muda yaitu di umur 20 tahun. Perjalanannya membangun bisnis kebab ini begitu luar biasa dan dapat menjadi inspirasi bagi kita.

Saya akan share Informasi mengenai pemilik kebab baba rafi dan kisahnya membangun bisnis kebab ini yang saya dapat dari sebuah sumber.

Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?
Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.

Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.
Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.
Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.
Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.
 

Sumber : Jawa Pos

Informasi tambahan yang saya dapatkan ketika mendengar Audio Book Bpk Hendy yang saya dapatkan dari buku "7 Keajaiban Rezeki" yang ditulis Bpk Ippho Santosa, kini pada tahun 2012 Kebab baba rafi kira - kira memiliki 500 lebih outlet dan gak kebayang dah omsetnya.
 

Ingin sukses??
Belajarlah dan carilah informasi dari orang sukses dan TAKE ACTION..!!
 

Karena "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Readmore..

Minggu, 06 Februari 2011

Biografi Anne Ahira

| Minggu, 06 Februari 2011 | 1 komentar


Mojang Bandung kelahiran November 1979 ini telah menjalankan bisnis online sejak tahun 2001 yang kini penghasilannya sangat signifikan di luar dugaan!
Kepiawaian Anne Ahira dalam menjalankan bisnis online telah diakui oleh banyak media masa di Indonesia.
Bahkan tahun 2007, Pemerintah Republik Indonesia meminta Anne Ahira menjadi pembicara di APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) untuk mewakili Indonesia dan menjelaskan tentang REVOLUSI eBisnis yang sedang dia jalankan di Indonesia!
Pada akhir tahun 2005, Anne Ahira mendirikan ‘kursus online’ Internet Marketing khusus untuk orang Indonesia. Kini muridnya telah mencapai RIBUAN tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan terus bertambah setiap hari.
Anne Ahira adalah anak kedua dari tiga bersaudara (semua saudaranya perempuan) dari pasangan H. Sobur Sodikin dan Hj. Aas Asiah. Anne Ahira biasa dipanggil “Ahira” atau “Hira” adalah seorang Internet Marketer Dunia, lahir tanggal 28 November 1979.
Keberhasilan Anne Ahira ini terhitung langka di Indonesia, Gadis yang memmpunyai motto "kekayaan sejati adalah apa adanya aku, bukan apa yang aku miliki" ini sebenarnya delapan tahun yang lalu (Desember 2001), belum tahu apa itu “e-mail. Ahira sama sekalo tidak tahu! Ahira lulusan STBA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing) di Bandung, dan tidak penah mengenyam pendidikan “Internet Marketing”.
Banyak media masa Indonesia mengakui kepiawaian Anne Ahira dalam menjalan bisnis online. Pemerintah Republik Indonesia di tahun 2007 meminta Anne Ahira menjadi pembicara APEC (Asia Pacific Cooperaion) sebagai perwakilan Indonesia dan menjelaskan tentang Revolusi eBisnis yang sedang Ahira jalankan di Republik Indonesia ini.
Anne Ahira mendirikan "kursus online" Internet Marketing khusus untuk masyarakat Indonesia, Asian Brain Internet Marketing Center. Murid-muridnya tersebar dari Sabang sampai Merauke dan sudah mencapai ribuan dan terus bertambah setiap hari. Kurang dari 2 tahun menjalankan Internet Marketing penghasilannya telah mencapai ribuan U$ Dollar setiap bulannya.
Perusahaan “Advance Vision Marketing America” pernah mewawancarai Ahira tentang Internet Marketing Prophecies. Perusahaan ini hanya memilih 8 orang internet marketer terbaik dari seluruh penjuru dunia dan Ahira adalah satu-satunya wakil dari Asia Pasifik dan satu-satunya perempuan yang dipilih untuk wawancara ini. “Advance Vision Marketing  America” selanjutnya menjual hasil wawancara ini seharga 97 U$ Dollar per kopi.
Ahira dikenal sebagai internet marketer sukses kelas dunia. Buku “30 Days to Internet Marketing Success” adalah salah satu pengarangnya yang ditulis oleh 60 pengarang yang merupakan the best internet marketer sepanjang tahun 2003. Dalam kurun waktu kurang dari 4 bulan omzet penjualan buku ini mencapai lebih dari 340.000 U$ Dollar.

Sumber :
http://www.bisniszuhal.com

Readmore..

Biografi Bob Sadino


Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. 

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam

Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)

Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

"Luar Biasa Bukan, Hanya lulusan SMA bisa Ja di pengusaha yg Super sukses !!"

Referensi :
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino

Readmore..

Biografi Bpk Febrian Agung Budi P. (Presdir DFI)

 
Nama                                    : Febrian Agung Budi Prastyo
TTL                                        : Solo, 25 Februari 1984
Riwayat Pendidikan      : SD 83 Mangkubumen, SMP 9 Solo, SMA 3 Solo, ITB Teknik Kimia
Prestasi Sekolah           : Selalu menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA, NEM SMP peringkat no.1 se-Solo dan no.6 se-jawa, NEM SMA peringkat no.2 se-Solo dan no. 11 Nasional
Jabatan                             : Presiden Direktur PT. Duta Future International (DFI), Komisaris PT Nusantarindo Agro Energi, Komisaris MQ FM.
Semakin menjamurnya pengguna telepon seluler (ponsel). Kini dimanfaatkan sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Hal inilah yang dilakukan Febrian Agung Budi Prastyo (25), yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur di PT. Duta Future International (DFI) sebagai induk perusahaan dari Duta Business School (DBS) yang bergerak dalam bidang jasa isi ulang pulsa, agen pulsa elektrik dan fisik, asuransi kecelakaan, serta discount card.
Setelah sebelumnya pernah mengalami pra lepas landas dan kegagalan bisnis yang bertubi-tubi. Pria kelahiran Solo ini dibesarkan dalam keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai sopir angkutan Damri di Solo. Sejak kecil Febrian memegang teguh prinsip yang ditanamkan oleh kedua orangtuanya. Kegigihan dan keyakinan itulah yang mengantarkan Febrian memutuskan untuk merantau dan menempuh pendidikan di perguruan tinggi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2002, di jurusan Teknik Kimia.
Bagi Febrian, kedua orangtuanya merupakan motivator yang utama, baik saat ia menempuh pendidikan hingga memulai usaha. Awal kesuksesan Febrian dilakoninya pada akhir 2007. Pemilik mobil Mercy New Eyes C200, BMW, dan Toyota Fortuner ini mengaku memang tidak gampang meraih kesuksesan tanpa kerja keras. Namun motivasi dan keinginan besar telah mengantarkannya ke puncak kesuksesan.
Bakat berpidato dan berbicara di depan umum sudah dilakoni anak sulung dari tiga bersaudara ini sedari kecil. Febrian kecil sering mengisi ceramah di mesjid-mesjid. Tak hanya itu, Febrian juga pernah menjadi pemimpin rohis dikala SMP-SMA. Dimata teman-temannya, Febrian memiliki bakat dan keuletan, itu terbukti dari banyaknya kegiatan yang digelutinya seperti kelompok ilmiah remaja, taekwondo, dan sebagainya. Prestasinya pun tidak usah diragukan lagi, selama sekolah dari SD hingga SMA Febrian selalu menjadi juara kelas.
“…Febrian itu orangnya bertanggungjawab, pekerja keras, dan sederhana, ” ungkap Fanny Triana, perempuan cantik yang dinikahinya tahun 2005 lalu.
Pada tahun 2003, Febrian memutuskan untuk memulai bisnis di sela-sela kuliah. Karena kondisiperekonomian keluarga saat itu tidak memungkinkan, membuatnya terpaksa sedikit mengesampingkan kuliah dan fokus berbisnis. Walaupun sempat terbiasa dengan rutinitas layaknya mahasiswa, tetapi Febrian tetap fokus mencari peluang usaha dari jualan kaos, jaket, suplemen, hingga bisnis pulsa yang masih digelutinya hingga kini.
Pada akhir 2008, Febrian memutuskan untuk mengundurkan diri dari bangku kuliah. Keputusan itu dipilihnya agar lebih fokus menjalankan bisnis tersebut.
“…itu adalah pilihan saya, tentu saya memilih dengan segala pertimbangan yang ada saat itu, tapi saya tidak merekomendasikan bagi rekan-rekan yang lain untuk melakukan hal yang sama, ” aku pria berbintang Pisces ini.
Keputusannya ini didukung seratus persen oleh keluarganya. Febrian bertekad melanjutkan perjuangannya di lapangan, meskipun tanpa menyandang gelar akademik seperti pengusaha lain pada umumnya. Menurut Febrian, orang sukses tidak ditentukan oleh latar belakang pendidikannya tetapi oleh kerja keras dan keuletan.
“Kalau pintar kita bisa belajar pada guru atau dosen, tetapi untuk meraih kesuksesan kita harus belajar pada pengusaha yang sukses, wong sepuluh orang terkaya di dunia tak punya gelar” ungkap ayah satu anak ini sambil tertawa.

Selama 2003-2005, Febrian beserta adiknya memutuskan untuk mencari penghasilan sendiri, dengan menjalankan berbagai usaha yang bersifat bisnis konvensional. Namun hasil kerja tersebut tidak membuat Febrian merasa puas, bahkan banyak usahanya merugi dan mengalami kegagalan. Hingga akhirnya Febrian memutuskan untuk menjajaki bisnis pulsa pada penghujung 2006.
Dari hasil kerjanya pada bisnis pulsa tersebut, Maret 2006 Febrian mampu membeli sebuah mobil BMW. Sayangnya, tiga bulan pertama menyicil mobil teersebut, perusahaan pulsa tersebut mengalami kebangkrutan. Sehingga Febrian harus mulai lagi bisnisnya dari nol lagi.

Dari sinilah awalmula lahirnya Duta Business School, saat Febrian memulai usahanya lagi dari nol, membuat perusahaan baru, bekerjasama dengan adiknya Randu Sekti W, besrta rekan-rekannya Andhika H.P., Margono, Satriyo B.P. Adhi, dan Dani Purnama. Kegigihan itulah yang membawanya hingga menjabat sebagai Presiden Direktur di PT. DFI.
Mengingat usaha yang dikelolanya ini semakin berkembang, dengan jumlah member yang telah mencapai angka lebih dari satu juta, menuntut Febrian untuk terus memperbaiki sistem dan pelayanan secara intensif.
Menurutnya masih ada beberapa sistem yang mesti dibenahi, agar pelayanan yang diberikan lebih baik dan memuaskan pelanggan. Misalnya sistem, website, produk, maupun contents dan server. Bahkan, bapak dari satu anak ini tidak ragu mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk keperluan upgrade server.
Dengan kegiatan yang cukup padat, Febrian tetap menyisihkan waktunya untuk berkumpul bersama keluarga, karena baginya keluarga tetap yang utama.
Niat teguhnya untuk mencapai kesuksesan ini, didasari oleh janjinya yang pernah terucap sewaktu kecil kepada ibunya untuk menjadi orang terkaya di Solo. Semoga!
(Diceritakan kembali dari Majalah Go Freedom Edisi April 2009 Hal 13

Readmore..
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com