Toko Buku Online Terlengkap
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan THT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan THT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 November 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POLIP NASAL

| Sabtu, 06 November 2010 | 0 komentar

Pengertian :
Polip hidung adalah massa yang lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat dalam rongga hidung.

Etiologi
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat hipersensitifitas atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi terhadap kejadian polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi tidak ada keraguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal serinkali ditemuakan bersamaan dengan adanya polip.
Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang terjadai pada anak-anak . Polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis (mucoviscidosis)

Patofisiologi
Polip berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang terdiri atas cairan interseluler dan kemudian terdorong ke dalam rongga hidung dan gaya berat.
Polip dapat timbul dari bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali bilateral. Polip hiung paling sering berasal dari sinus maksila (antrum) dapat keluar melalui ostium sinus maksilla dan masuk ke ronga hidung dan membesar di koana dan nasopharing. Polip ini disebut polip koana.
Secara makroskopik polip tershat sebagai massa yang lunak berwarna putih atau keabu-abuan. Sedangkan secara mikroskopik tampak submukosa hipertropi dan sembab. Sel tidak bertambah banyak dan terutama terdiri dari sel eosinofil, limfosit dan sel plasma sedangkan letaknya berjauhan dipisahkan oleh cairan interseluler. Pembuluh darah, syaraf dan kelenjar sangat sedikit dalam polip dan dilapisi oleh epitel throrak berlapis semu.

Gejala Klinik :
- Sumbatan hidung
- Hiposmia / anosmia
- Sinusitis, nyeri kepala, rinorhea
- Alergi; berupa bersin-bersin dan iritasi


Pengobatan :
Polip yang masih kecl dapat diobati dengan kortikosteroid (secara konservatif) baik lokal maupun secara sistemik. Pada polip yang cukup besar dan persisten dilakukan tindakan operatif berupa pengangkatan polip (polipectomy).
Dalam kejadian polip berulang maka dilakukan etmoidectomy baik intranasal maupun ekstranasal.

Proses Keperawatan

Pengkajian
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala : Kelelahan, kelemahan atau malaise umum
Tanda : Penurunan kekuatan, menunjukkan kelelahan

SIRKULASI
Gejala Lelah, pucat atau tidak ada tanda sama sekali
Tanda Takikardia, disritmia.
Pucat (anemia), diaforesis, keringat malam.

INTEGRITAS EGO
Gejala Masalah finansial : biaya rumah sakit, pengobatan .
Tanda Berbagai perilaku, misalnya marah, menarik diri, pasif

MAKANAN/CAIRAN
Gejala Anoreksia/kehilangan nafsu makan
Adanya penurunan berat badan sebanyak 10% atau lebih dari berat badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet.
Tanda -

NYERI/KENYAMANAN
Gejala Nyeri tekan/nyeri pada daerah hidung
Tanda Fokus pada diri sendiri, perilaku berhati-hati.

PERNAPASAN
Gejala Dispnea
Tanda Dispnea, takikardia
Pernafasan mulut
Tanda distres pernapasan, sianosis.(bila obstruksi total)
Terdapat pembesaran polip


1. Rencana Keperawatan
PRIORITAS KEPERAWATAN
1. Memberikan dukungan fisik dan psikologi selama tes diagnostik dan program pengobatan.
2. Mencegah komplikasi
3. Menghilangkan nyeri
4. Memberikan informasi tentang penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan

TUJUAN PEMULANGAN
1. Komplikasi dicegah/menurun
2. Nyeri hilang/terkontrol
3. Proses penyakit/prognosis, kemungkinan komplikasi dan program pengobatan di pahami.

Diagnosa Keperawatan Pola Pernapasan/Bersihkan Jalan Napas, Tak Efektif Resiko Tinggi Terhadap
Hasil Yang Diharapkan/Kriteria Evaluasi Pasien Akan Mempertahankan Pola Pernapasan Normal/Efektif Bebas Dispnea, Sianosis Atau Tanda Lain Distres Pernapasan


INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Kaji/awasi prekuensi pernapasan, kedalaman, irama. Perhatikan laporan dispnea dan/atau penggunaan otot bantu pernapasan cuping hidung, gangguan pengembangan dada Perubahan (seperti takipnea, dispnea, penggunaan otot aksesori) dapat mengindikasikan berlanjutnya keterlibatan/ pengaruh pernapasan yang membutuhkan upaya intervensi
Beri posisi dan bantu ubah posisi secara periodik Meningkatkan aerasi semua segmen paru dan memobilisasikaan sekresi
Anjurkan/bantu dengan tehnik napas dalam dan/atau pernapasan bibiratau pernapasan diagfragmatik abdomen bila diindikasikan Membantu meningkatkan difusi gas dan ekspansi jalan napas kecil, memberikan pasien beberapa kontrol terhadap pernapasan, membantu menurunkan ansietas
Awasi/evaluasi warna kulit, perhatikan pucat, terjadinya sianosis (khususnya pada dasar kulit, daun telinga,dan bibir) Proliferasi SDP dapat menurunkan kapasitas pembawa oksigen darah, menimbulkan hipoksemia.
Kaji respon pernapasan terhadap aktivitas. Perhatikan keluhan dispnea/lapar udara meningkatkan kelelahan. Jadwalkaan periode istirahat antara aktivitas Penurunan oksigen seluler menurunkan toleransi aktivitas. Istirahat menurunkan kebutuhan oksigen dan mencegah kelelahandan dispnea
Identifikasi/dorong tehnik penghematan energi mis : periode istirahat sebelum dan setelah makan, gunakan mandi dengan kursi, duduk sebelum perawatan Membantu menurunkan kelelahan dan dispnea dan menyimpan energi untuk regenerasi selulerdan fungsi pernapasan
Tingkatkan tirah baring dan berikan perawatan sesuai indikasi selama eksaserbasi akut/panjang Memburuknya keterlibatan pernapasan/ hipoksia dapat mengindikasikan penghentian aktivitas untuk mencegah pengaruh pernapasan lebih serius
Berikan lingkungan tenang Meningkatkan relaksasi, penyimpanan energi dan menurunkan kebutuhan oksigen
Observasi distensi vena leher, sakit kepala, pusing, edema periorbital/fasial, dispnea,dan stridor Pasien non-Hodgkin pada resiko sindrom vena kava superior dan obstruksi jalan napas, menunjukkan kedaruratan onkologis.
Kolaborasi
Berikan tambahan oksigen Memaksimalkan ketersediaan untuk untuk kebutuhan sirkulasi, membantu menurunkan hipoksemia
Awasi pemeriksaan laboratorium, mis : GDA, oksimetri Mengukur keadekuatan fungsi pernapasan dan keefektifan terapi

Readmore..

Rabu, 27 Oktober 2010

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SINUSITIS

| Rabu, 27 Oktober 2010 | 0 komentar


Definisi :
Sinusitis  adalah : merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan  oleh kuman atau virus.

Etiologi
a.         Rinogen
Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :
  • Rinitis Akut (influenza)
  • Polip, septum deviasi
b.         Dentogen
Penjalaran infeksidari gigi geraham atas
Kuman penyebab :
-          Streptococcus pneumoniae
-          Hamophilus influenza
-          Steptococcus viridans
-          Staphylococcus aureus
-          Branchamella catarhat
Gejala Klinis :
a.         Febris, filek kental, berbau, bisa bercampur darah
b.         Nyeri :
-            Pipi : biasanya unilateral
-            Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari
-            Gigi (geraham atas) homolateral.

c.         Hidung :
-            buntu homolateral
-            Suara bindeng.


Cara pemeriksaan
  1. Rinoskopi anterior :
-            Mukosa merah
-            Mukosa bengkak
-            Mukopus di meatus medius.

  1. Rinoskopi postorior
-            mukopus nasofaring.

  1. Nyeri tekan pipi yang sakit.

  1. Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit.

  1. X Foto sinus paranasalis
-          Kesuraman
-          Gambaran “airfluidlevel”
-          Penebalan mukosa

Penatalaksanaan :
a.         Drainage
-            Medical :
* Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)
* Dekongestan oral :Psedo efedrin 3 X 60 mg
-            Surgikal : irigasi sinus maksilaris.

b.         antibiotik diberikan  dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :
-          ampisilin 4 X 500 mg
-          amoksilin 3 x 500 mg
-          Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet
-          Diksisiklin 100 mg/hari.

c.         Simtomatik
-       parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.

d.        Untuk kromis adalah :
-          Cabut geraham atas bila penyebab dentogen
-          Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20)
-          Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)

Tinjauan Keperawatan
Pengkajian :
1.         Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,
2.         Riwayat Penyakit sekarang :
3.         Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.
4.         Riwayat penyakit dahulu :
-            Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma
-            Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
-            Pernah menedrita sakit gigi geraham

5.         Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit  klien sekarang.

6.         Riwayat spikososial
a.          Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0
b.          Interpersonal : hubungan dengan orang lain.

7.         Pola fungsi kesehatan
a.         Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat
-            Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping
b.        Pola nutrisi dan metabolisme :
-            biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung
c.         Pola istirahat dan tidur
-            selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek
d.        Pola Persepsi dan konsep diri
-            klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun
e.         Pola sensorik
-            daya penciuman klien  terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).

8.         Pemeriksaan fisik
a.         status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.
b.         Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan  bengkak).

Data subyektif :
1.         Observasi nares :
a.         Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya
b.         Riwayat pembedahan hidung atau trauma
c.         Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah, frekwensinyya , lamanya.

2.         Sekret hidung :
a.         warna, jumlah, konsistensi secret
b.         Epistaksis
c.         Ada tidaknya krusta/nyeri hidung.

3.         Riwayat  Sinusitis :
a.         Nyeri kepala, lokasi dan beratnya
b.         Hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca.

4.         Gangguan umum lainnya : kelemahan
Data Obyektif
1.         Demam, drainage ada : Serous
Mukppurulen
Purulen
2.         Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang mengalami radang ® Pucat, Odema keluar dari hidng atau mukosa sinus
3.         Kemerahan dan Odema membran mukosa
4.          Pemeriksaan penunjung :
a.       Kultur organisme hidung dan tenggorokan
b.      Pemeriksaan rongent sinus.

Diagnosa Keperawatan
1.         Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung
2.         Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi)
3.         Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental
4.         Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan hidung
5.         Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus
Perencanaan
1.         Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung
Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
-            Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang
-            Klien tidak menyeringai kesakitan
Intervensi
Rasional
a.       Kaji tingkat nyeri klien


b.         Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien  serta keluarganya


c.         Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi


d.        Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien
e.         Kolaborasi dngan tim medis :
1)        Terapi konservatif :
-            obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung
-            Drainase sinus
2)        Pembedahan  :
-            Irigasi Antral  :
Untuk sinusitis maksilaris
-            Operasi Cadwell Luc.
a.         Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya
b.         Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri
c.         Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri
d.        Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.
e.   Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien

2.         Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi)
Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang
Kriteria :
-          Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya
-          Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.
Intervensi
Rasional
a.         Kaji tingkat kecemasan klien
b.         Berikan kenyamanan dan ketentaman  pada klien :
-          Temani klien
-          Perlihatkan rasa empati( datang dengan menyentuh klien )
c.         Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti
d.        Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :
-          Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang
-          Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan
e.         Observasi tanda-tanda vital.

f.          Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis
a.         Menentukan tindakan selanjutnya
b.         Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan



c.         Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi  untuk penyakit tersebut  sehingga klien lebih kooperatif

d.        Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.




e.         Mengetahui perkembangan klien secara dini.
f.          Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien

3.         Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) sekunder dari peradangan sinus
Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous,purulen) dikeluarkan
Kriteria :
-            Klien tidak bernafas lagi melalui mulut
-            Jalan nafas kembali normal terutama hidung
Intervensi
Rasional
a.         kaji penumpukan secret yang ada

b.         Observasi tanda-tanda vital.

c.         Koaborasi dengan tim medis  untuk pembersihan sekret
a.         Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya
b.         Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi
c.         Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah

4.         Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus
Tujuan : kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi
Kriteria :
-            Klien menghabiskan porsi makannya
-            Berat badan tetap (seperti sebelum sakit ) atau bertambah
Intervensi
Rasional
a.         kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien
b.         Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan

c.         Catat intake dan output makanan klien.
d.        Anjurkan makan sediki-sedikit tapi sering

e.         Sajikan makanan secara menarik
a.         Mengetahui kekurangan nutrisi kliem
b.         Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan memotivasi meningkatkan  pemenuhan nutrisi
c.         Mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi klien
d.        Dengan sedikit tapi sering mengurangi penekanan yang berlebihan pada lambung
e.         Mengkatkan selera makan klien

5.         Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder dari proses peradangan
      Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman
      Kriteria :
-            Klien tidur 6-8 jam sehari
Intervensi
Rasional
a.         kaji kebutuhan tidur klien.


b.         ciptakan suasana yang nyaman.
c.         Anjurkan klien bernafas lewat mulut
d.        Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat 
a.         Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur
b.         Agar klien dapat tidur dengan tenang
c.         Pernafasan tidak terganggu.
d.        Pernafasan dapat efektif kembali lewat hidung

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000

Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan  FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya

Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta
Muslim, Zitalal Khairul.(2010)."Askep Hardcore".Internet.http://duta4diagnosa.blogspot.com

Readmore..
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com