Toko Buku Online Terlengkap
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Persarafan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Persarafan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juni 2010

ASKEP MIGREN|SAKIT KEPALA SEBELAH

| Selasa, 08 Juni 2010 | 0 komentar


Disfungsi autonomik pembuluh darah dikulit kepala mengakibatkan tumbuhnya nyeri kepala yang dikenal sebagai migren. Sebenarnya mekanisme migren belum semuanya jelas. Tetapi banyak faktor – faktor yang menungkapkan bahwa prodram dini dari migraine pasti terkait pada vaso konstriksi arteri intra kranial.
Gejala yang khas pada tahap dini ialah timbulnya skotoma dan wajah yang pucat. Prodrom itu disusul dengan timbulnya nyeri kepala sesisi dan wajah menjadi merah. Tidak lama kemudian timbul muntah – muntah, edema selaput lendir hidung, jari – jari tangan dan kaki.
Gejala tersebut dianggap sebagai manifestasi tahap vasodolatasi arteri ekstra kranial.
Apa yang menyebabkan disfungsi pembuluh darah masih belum diketahui, tetapi mungkin sekali suatu gangguan bawaan, karena faktor familial dan hereditas jelas ada pada migraine. ( Prof Dr. Mahar Mardjono, Neurologi klinis )
Diantara sekian banyak jenis nyeri kepala, migraine merupakan jenis yang paling banyak diteliti dan dibicarakan, disamping penyebab yang masih misteri, maka insidennya yang cukup banyak mendorong para ahli untuk menelitinya.
Aretaeusi ( 80 AD ) merupakan salah seorang peneliti nyeri kepala pada zamannya dan dialah yang pertama menguraikan gejala nyeri kepala yang mempunyai profile khas. Ia memperkenalkan jenis ini dengan nama “ HETEROCRANIA “ yang berarti nyeri kepala.
Oleh Galen 50 tahun kemudian diubah menjadi “ HEMICRANIA “ dan kemudian para ahli dari prancis mengubahnya lagi kedalam bahasa mereka sebagai “ MEGRIM “ untuk jelasnya kata – katanya menjadi “ MIGRAINE “ ( Dr. Sidiarto. K )

A. ANXIETAS / CEMAS
Pengertian
Cemas atau anxietas merupakan suatu perasaan khawatir yang samar – samar sumbernya, seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu tersebut.
Anxietas adalah perasaan / respon emosional terhadap penilaian, perasaan tidak pasti dan tidak berdaya ( Stuart dan Sundeen, 1988 ). Keadaan emosi dialami secara objektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Anxietas adalah respon emosional terhadap penilaian dalam kehidupan sehari – hari. Anxietas menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai kekuhan fisik.

FAKTOR PREDISPOSISI
1. TEORI PSIKO ANALITIK
Menurut Freud, Struktur kepribadian terdiri dari 3 elemen yaitu “ ID, EGO, & SUPER EGO “. Ego melambangkan dorongan insting dan impuls primiti, Super Ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma – norma budaya seseorang. Sedangkan Ego diagambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari ID & Super Ego.

2. TEORI INTERPERSONAL
Anxietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan, seperti kehilangan, perpisahan individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah mengalami anxietas yang berat.

3. TEORI PERILAKU
Ansietas merupakan hasil frusatasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Teori ini meyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas yang berat pada kehidupan pada masa dewasanya.

• Ansietas Ringan
Ansietas ringan Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari –hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan individu akan berhati – hati dan waspada.

Respon Fisiologis
- Sesekali nafas pendek
- Nada dan tekanan darah naik
- Gejala ringan pada lambung
- Muka berkerut dan bibir bergetar

Respon Kognitif
- Mampu menerima rangsang yang kompleks
- Konsentrasi pada masalah
- Menyelesaikan masalah secara efektif

Respon Perilaku dan Emosi
- Tidak dapat duduk tenang
- Tremor halus pada tangan
- Suara kadang – kadang meninggi

• Ansietas sedang
Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun, individu lebih memfokuskan pada hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.

Respon fisiologik
- Sering nafas pendek
- Nadi dan tekanan darah naik
- Mulut kering
- Anorexia
- Diare / konstipasi
- Gelisah
Respon kognitif
- Lapang persepsi menyempit
- Rangsang luar tidak mampu diterima
- Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
Respon perilaku dan emosi
- Gerakan tersentak – sentak / meremas tangan
- Bicara banyak dan lebih cepat
- Susah tidur
- Perasaan tidak aman

• Ansietas Berat
Pada ansietas berat lahan persepsi menjadi sangat sempit kemudian tidak mampu berfikir.

STRESSOR PENCETUS
Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori :
1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidak mampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari – hari
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
( Stuart dan Sundeen)

GAMBARAN KLINIS
Sensori kecemasan sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan samar – samar, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada dan gangguan lambung ringan.
Seseorang yang cemas mungkin juga merasa gelisah, seperti yang dinyatakan oleh ketidak mampuan untuk duduk dan berdiri lama.
Kumpulan gejala tertentu yang ditemukan selama kecemasan cenderung bervariasi dari orang ke orang.
( Kaplan dan Sadock, ed 7 )

• MIGRAINE
Migraine adalah nyeri kepala rekuren, idiopatik, yang bermanifestasi sebagai serangan – serangan yang berlangsung antara 4 – 72 jam. Ciri – ciri nyeri kepala yang khas besifat unilateral, berdenyut – denyut, dengan intensitas nyeri dari sedang hingga berat dan diperburuk oleh aktifitas fisik rutin dengan fotofobia atau fonofobia.

ETHIOLOGI
Lokasi nyeri kebanyakan sesisi, tetapi dapat pula seluruh kepala, dan yang paling sering didaerah pelipis, temporal, dapat pula di frontal dan oksipital.
Dapat pula nyeri dimulai dari temporal atau oksipital kemudian menjalar ke daerah lain atau seluruh kepala.
( Dr. Sidiarto. M, Nyeri Kepala menahun )

PATHOGENESIS
Biarpun migraine sudah dikenal sejak lama, tidak banyak yang diketahui tentang pathogenesisnya.
Kemajuan teknologi telah berubah banyak, sehingga salam abad terakhir ini banyak diketahui hal – hal yang terjadi disekitar dan selama serangan migraine.
Ada dua pendapat yaitu pengamat kelompok teori vasogen yang beranggapan bahwa serangan migraine disebabkan oleh perubahan aliran darah dikepala, sedangkan pengamat teori neurogen beranggapan bahwa perubahan primer pada serangan migraine terjadi pada jaringan otot sendiri.

KLASIFIKASI MIGRAINE
Klasifikasi migraine yang digunakan sekarang adalah klasifikasi yang dikeluarkan oleh “ International Headache Society “ ( HIS 1988 ), yaitu :
1. Migraine
a. Migraine tanpa aura ( migraine without aura )
Sebelum disebut mgraine umum atau hemi krania simplek
Deskripsinya adalah nyeri kepala idioplastik berulang dengan lama serangan 4 jam sampai 72 jam. Karakteristik yang khas berupa lokasi unilateral, kualitas berdenyut.
b. Migraine dengan aura ( migraine with aura )
Sebelum disebut dengan migraine klasik, migraine oftalmik, migraine hemiplegi, migraine afasia, migraine komplikata.
Deskripsinya adalah kelainan idioplastik yang berulang, lokasi di cortek cerebra atau batang otak, timbul secara bertahap dalam waktu 5 – 20 menit.
c. Migraine oftalmoplegi ( oftalmoplegie migraine )
Adalah serangan nyeri kepala berulang disertai paresis satu atau lebih dari syaraf kranials untuk mata, tanpa adanya lwsi intra kranial.
d. Migraine Retina.
Adalah serangan skotoma atau buta monokuler yang berulang yang berlangsung kurang dari 1 jam dengan atau tanpa nyeri.

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN MIGRAINE

Sudah lebih dari 100 tahun hubungan antara faktor psikologik dan nyeri kepala diteliti.
Faktor emosional sering kali mencetuskan nyeri kepala terutama migraine. Tiga type dari nyeri kepala yang palingsering dihubungkan dengan fakktor psikologik adalah migraine lebih banyak dipelajari secara intensive dibandingkan daripada bentuk – bentuk lainnya.
Biasanya penderita migraine mempunyai kepribadian yang spesifik ( perfek, ambisius, kaku ) sebagai suatu kelompok, pasien dengan migraine biasanya intelegen dan perfeksionis dan mereka adalah orang yang berkemampuan menghadapi krisis sehari – hari. Namun dalam adaptasi terhadap perubahan hidup seperti masa remaja, menstruasi, perpisahan dari keluarga dan rumah, ganti pekerjaan, perkawinan , peran sebagai orang tua, atau mendapat kedudukan tinggi, ternyata kemampuan untuk mengatasi masalah yang biasanya baik, menjadi kurang baik dan oleh sebab iu serangan nyeri kepala lalu timbul.
MEKANISME KOPING
Ketika mengalami cemas, individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya dan ketidakmampuan mengatasi cemas secara konstruktif merupakan penyebab utama terjadinya perilaku paologis, pola yang cenderung digunakan seseorang untuk mengatasi cemas ringan cenderung tetap dominasi ketika cemas menghebat. Cemas tingkat ringan sering ditanggulangi tanpa pemikiran yang serius.
Tingkat cemas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping :
1. Reaksi yang beroreantasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan beroreantasi pada tindakan untuk memenuhi secara reakstik tuntutan situasi stress.
- Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan
- Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik untuk memindahkan seseorang dari sumber stress
- Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang mengoperasikan , mengganti tujuan atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang.
2. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi cemas ringan dan sedang, jika berlangsung pada tingkat tidak sadar dan melibatkan penipuan diri dan disoreantasi realitas. Maka mekanisme ini dapat merupakan respon mal adaptif terhadap stres.

SUMBER KOPING
Individu dapat mengatasi stres dan cemas dengan menggerakkan sumber koping tersebut sebagai modal ekonomik , kemampuan penyelesaian masalah , dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping yang berhasil

PENGKAJIAN
PERILAKU
Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologi dan tingkah laku atau secara tidak langsung melalui muculnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan
Dampak kecemasan pada respon fisiologis pada kecemasan ringan dan sedang adalah menyangkut kapasitas seseorang, pada kecemasan berat dan panik akan melemahkan atau meningkatkan kapasitas yang berlebihan, respon fisiologis yang berhubungan dengan kecemasan diatur oleh otak melalui sistem saraf autonomic.
Dua jenis respon autonomik adalah sebagai berikut:
1. Respon parasimpatis yang menghemat respon tubuh
2. Respon simpatis yang mengaktifkan respon tubuh.

MASALAH KEPERAWATAN
1. Ansietas
2. Koping individu tidak efektif
3. Gangguan konsep diri
4. Isolasi sosial
5. Gangguan pola tidur

Readmore..

Asuhan Keperawatan SPACE OCCUPYING LESSION ( SOL )


A. Pengertian
SOL merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kuntusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor intra kranial. ( Long, C 1996 ; 130 )
Dalam Laporan Pendahuluan ( LP ) ini, penulis batasi pada Tumor Otak Adapun definisi Tumor Otak adalah proses pertumbuhan termasuk benigna dan maligna yang mengenai otak dan sumsum tulang belakang ( Bullock, 1996 ).

B. Etiologi
Faktor Resiko, tumor otak dapat terjadi pada setiap kelompok Ras, insiden meningkat seiring dengan pertambahan usia terutama pada dekade kelima, keenam dan ketujuh .faktor resiko akan meningkat pada orang yang terpajan zat kimia tertentu ( Okrionitil, tinta, pelarut, minyak pelumas ), namun hal tersebut belum bisa dipastikan.Pengaruh genetik berperan serta dalam tibulnya tumor, penyakit sklerosis TB dan penyakit neurofibomatosis.

C. Tanda dan gejala
1. Tanda dan gejala peningkatan TIK :
a. Sakit kepala
b. Muntah
c. Papiledema
2. Gejala terlokalisasi ( spesifik sesuai dengan dareh otak yang terkena ) :
a. Tumor korteks motorik ; gerakan seperti kejang kejang yang terletak
pada satu sisi tubuh ( kejang jacksonian )

b. Tumor lobus oksipital ; hemianopsia homonimus kontralateral ( hilang
Penglihatan pada setengah lapang pandang , pada sisi yang berlawanan dengan tumor ) dan halusinasi penglihatan
c. Tumor serebelum ; pusing, ataksia, gaya berjalan sempoyongan
dengan kecenderungan jatuh kesisi yang lesi, otot otot tidak terkoordinasi dan nistagmus ( gerakan mata berirama dan tidak disengaja )
d. Tumor lobus frontal ; gangguan kepribadia, perubahan status
emosional dan tingkah laku, disintegrasi perilaku mental., pasien sering menjadi ekstrim yang tidak teratur dan kurang merawat diri
e. Tumor sudut serebelopontin ; tinitus dan kelihatan vertigo, tuli (
gangguan saraf kedelapan ), kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah ( saraf kelima ), kelemahan atau paralisis ( saraf kranial keketujuh ), abnormalitas fungsi motorik.
f. Tumor intrakranial bisa menimbulkan gangguan kepribadian, konfusi,
gangguan bicara dan gangguan gaya berjalan terutam pada lansia.
( Brunner & Sudarth, 2003 ; 2170 )

D. Pemeriksaan Diagnostik
1. CT Scan ; memberi informasi spesifik mengenai jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor dan meluasnya odema cerebral serta memberi informasi tentang sistem vaskuler
2. MRI ; membantu dalam mendeteksi tumor didalam batang otakdan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan CT Scan
3. Biopsi Stereotaktik ; dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan serta informasi prognosis.
4. Angiografi ; memberi gambaran pembuluh darahserebral dan letak tumor

5. Elektro ensefalografi ; mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang
( Doenges, 2000 )

E. Pengkajian
1. Data dasar ; nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, alamat, golongan darah, penghasilan
2. Riwayat kesehatan ; apakah klien pernah terpajan zat zat kimia tertentu, riwayat tumor pada keluarga, penyakit yang mendahului seperti sklerosis TB dan penyakit neurofibromatosis, kapan gejala mulai timbul
3. Aktivitas / istirahat, Gejala : kelemahan / keletihan, kaku, hilang keseimbangan. Tanda : perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quadriplegi, ataksia, masalah dalam keseimbangan, perubaan pola istirahat, adanya faktor faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, cemas, keterbatasan dalam hobi dan dan latihan
4. Sirkulasi, gejala : nyeri kepala pada saat beraktivitas. Kebiasaan : perubahan pada tekanan darah atau normal, perubahan frekuensi jantung.
5. Integritas Ego, Gejal : faktor stres, perubahan tingkah laku atau kepribadian, Tanda : cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan impulsif.
6. Eliminasi : Inkontinensia kandung kemih/ usus mengalami gangguan fungsi.
7. makanan / cairan , Gejala : mual, muntah proyektil dan mengalami perubahan selera. Tanda : muntah ( mungkin proyektil ), gangguan menelan ( batuk, air liur keluar, disfagia )
8. Neurosensori, Gejala : Amnesia, vertigo, synkop, tinitus, kehilangan pendengaran, tingling dan baal pad aekstremitas, gangguan pengecapan dan penghidu. Tanda : perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status mental, perubahan pupil, deviasi pada mata ketidakmampuan mengikuti, kehilangan penginderaan, wajah tidak simetris, genggaman lemah tidak seimbang, reflek tendon dalam lemah, apraxia, hemiparese, quadriplegi, kejang, sensitiv terhadap gerakan
9. Nyeri / Kenyamanan, Gejala : nyeri kepala dengan intensitas yang berbeda dan biasanya lama. Tanda : wajah menyeringai, respon menarik dri rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat / tidur.
10. Pernapasan, Tanda : perubahan pola napas, irama napas meningkat, dispnea, potensial obstruksi.
11. Hormonal : Amenorhea, rambut rontok, dabetes insipidus.
12. Sistem Motorik : scaning speech, hiperekstensi sendi, kelemahan
13. keamanan , Gejala : pemajanan bahan kimia toksisk, karsinogen, pemajanan sinar matahari berlebihan. Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi
14. seksualitas, gejala: masalah pada seksual ( dampak pada hubungan, perubahan tingkat kepuasan )
15. Interaksi sosial : ketidakadekuatan sitem pendukung, riwayat perkawinan ( kepuasan rumah tangga, dukungan ), fungsi peran.

Readmore..
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com