Toko Buku Online Terlengkap
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Perkemihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Perkemihan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juni 2010

Asuhan Keperawatan Ruptur Uretra

| Minggu, 06 Juni 2010 | 0 komentar

BAB I
TINJAUAN TEORI
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Dalam anatomi, uretra adalah saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh. Uretra berfungsi sebagai saluran pembuang baik pada sistem kemih atau ekskresi dan sistem seksual. Pada pria, berfungsi juga dalam sistem reproduksi sebagai saluran pengeluaran air mani.
Uretra pada wanita
Pada wanita, panjang uretra sekitar 2,5 sampai 4 cm dan terletak di antara klitoris dan pembukaan vagina.
Pria memiliki uretra yang lebih panjang dari wanita. Artinya, wanita lebih berisiko terkena infeksi kantung kemih atau sistitis dan infeksi saluran kemih.






Uretra pada pria
Pada pria, panjang uretra sekitar 20 cm dan berakhir pada akhir penis.
Uretra pada pria dibagi menjadi 4 bagian, dinamakan sesuai dengan letaknya:
• pars pra-prostatica, terletak sebelum kelenjar prostat.
• pars prostatica, terletak di prostat, Terdapat pembukaan kecil, dimana terletak muara vas deferens.
• pars membranosa, sekitar 1,5 cm dan di lateral terdapat kelenjar bulbouretralis.
• pars spongiosa/cavernosa, sekitar 15 cm dan melintas di corpus spongiosum penis.









Histologi
Sel epitel dari uretra dimulai sebagai sel transisional setelah keluar dari kantung kemih. Sepanjang uretra disusun oleh sel epitel bertingkat torak, kemudian sel bertingkat kubis di dekat lubang keluar.
Terdapat pula kelenjar uretra kecil yang menghasilkan lendir untuk membantu melindungi sel epitel dari urin yang korosif.










































tampak ada ekstravasasi kontras keluar dari lumen uretra. pasien diputuskan untuk dilakukan cystostomi untuk diversi urin







s

B. DEFINISI
Ruptur uretra adalah ruptur pada uretra yang terjadi langsung akibat trauma dan kebanyakan disertai fraktur tulang panggul, khususnya os pubis (simpiolisis).
C. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
a) Etiologi
Adanya trauma pada perut bagian bawah, panggul, genetalia eksterna maupun perineum.
• cedera eksternal
o Fraktur pelvis : ruptur
uretra pars membranasea.
o Trauma selangkangan :
ruptur uretra pars bulbosa.
o Iatrogenik : pemasangan
kateter folley yang salah.
o Persalinan lama.
o Ruptur yang spontan
b) Klasifikasi
Ruptur uretra dibagi menjadi 2 macam:
1. Ruptur uretra anterior :
Paling sering pada bulbosa disebut Straddle Injury, dimana robekan uretra terjadi antara ramus inferior os pubis dan benda yang menyebabkannya.
Terdapat daerah memar atu hematom pada penis dan scrotum (kemungkinan ekstravasasi urine
Penyebab tersering : straddle injury ( cedera selangkangan )
Jenis kerusakan :
• Kontusio dinding uretra.
• Ruptur parsial.
• Ruptur total.
2. Ruptur uretra posterior : paling sering pada membranacea.
• Ruptur utertra pars prostato-membranasea
• Terdapat tanda patah tulang pelvis.
• Terbanyak disebabkan oleh fraktur tulang pelvis.
• Robeknya ligamen pubo-prostatikum.
• Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah dijumpai jejas, hematom dan nyeri tekan.
• Bila disertai ruptur kandung kemih bisa ditemukan tanda rangsangan peritoneum.
Klasifikasi rupture uretra menurut Collapinto & Mc Collum :
1. Stretching/
teregang. Tidak ada ekstrvasasi.
2. Uretra
putus diatas prostato membranasea. Diafragma urogenital utuh. Ekstravasasi
terbatas pada diafragma urogenital.
• Uretra
posterior, diafragma uretra, dan uretra pars bulbosa proksimal rusak,
ekstravasasi sampai perineum.

RUPTUR URETRA TOTAL
- Penderita mengeluh tidak bisa buang air kecil sejak terjadi ruda paksa.
- Nyeri perut bagian bawah dan daerah supra pubic.
- Pada perabaan mungkin dijumpai kandung kemih yang penuh.
D. PATOFISIOLOGI
E. MANIFESTASI KLINIS
a) Perdarahan per-uretra post trauma.
b) Retensi urine.
c) Merupakan kontraindikasi
pemasangan kateter.
Lebih khusus:
Pada Posterior:
• Perdarahan per uretra.
• Retensi urine.
• Pemeriksaan Rektal Tuse : Floating Prostat.
• Ureterografi
: ekstravasasi kontras dan adanya fraktur pelvis.
Pada Anterior:
•Perdarahan per-uretra/ hematuri.
•Sleeve Hematom/butterfly hematom.
•Kadang terjadiretensi urine.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN RADIOLOGIK
- Tampak adanya defek uretra anterior daerah bulbus dengan ekstravasasi bahan kontras uretografi retrograd.
G. KOMPLIKASI
A. Komplikasi dini setelah rekonstruksi uretra
- Infeksi
- Hematoma
- Abses periuretral
- Fistel uretrokutan
- Epididimitis
B. Komplikasi lanjut
- Striktura uretra
- Khusus pada ruptur uretra posterior dapat timbul :
* Impotensi
* Inkontinensia
H. PENATALAKSANAAN
- Pada ruptur anterior
a. Pada ruptur anterior yang partial cukup dengan memasang kateter dan melakukan drainase bila ada.
b. ruptur yang total hendaknya sedapat mungkin dilakukan penyambungan dengan membuat end-to-end, anastomosis dan suprapubic cystostomy.
c. Kontusio :
observasi, 4-6 bulan kemudian dilakukan uretrografi ulang.
d. sistosomi, 2 minggu kemudian dilakukan uretrogram dan striktura sache jika timbul stiktura uretra
e. Debridement
dan insisi hematom untuk mencegah infeksi.
- Pada ruptur uretra posterior
a. Pada rupture yang total suprapubic cystostomy 6-8 minggu. tidak boleh dipasang kateter.
b. Pada ruptur uretra posterior yang partial cukup dengan memasang douwer kateter.
c. Operasi
uretroplasti 3 bulan pasca ruptur.








s
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA RUPTUR URETRA
A. PENGKAJIAN
BIODATA
Jenis kelamin laki-laki lebih dari pada wanita
RIWAYAT KESEHATAN PASIEN
Riwayat penyakit dahulu : -
Riwayat penyakit sekarang :
Nyeri tekan , memar atau hematum , hematuri
Bila terjadi ruptur total urethra anuria
PEMERIKSAAN FISIK
1.adanya trauma didaerah perineum
2.adanya perdarahan per urethra
3.adanya nyeri tekan pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah
4.adanya jejas pada daerah supra pubik dan abdomen bagian bawah
5.adanya fraktur tulang pelvis
6.Adanya Retensi urine.
7.Pemeriksaan Rektal Tuse : Floating Prostat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi
tampak adanya defek urethra anterior daerah bulbus dengan ektra vasasi bahan kontras uretrografi retrograde
Pada rupture posterior:
• Ureterografi
: ekstravasasi kontras dan adanya fraktur pelvis.
Pada rupture anterior:
Radiologis :
•Kontusio : tidak ada ekstravasasi.
•Ruptur : adaekstravasasi bahkan sampai bulbosa.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b-d adanya trauma urethra
Anxietas b-d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnyaPotensial infeksi b d efek pemasangan DK
2. Gangguan eliminasi urine ( retensio urine ) b-d adanya hematoma dan ekstravasasi
3. Potensial infeksi b-d efek pemasangan DK
C. INTERVENSI
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN PERENCANAAN
1 Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b-d adanya trauma urethra
Anxietas b-d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnyaPotensial infeksi b d efek pemasangan DK Tujuan : menyatakan atau menunjukkan nyeri hilang 1. Kaji nyeri meliputi lokasi , karakteristik , lokasi, intensitas ( skala 0-10 )
R. membantu evaluasi derajat ketidak nyamanan dan deteksi dini terjadinya komplikasi.
2. Perhatikan aliran dan karakteristik urine
R. penurunan aliran menunjukkan retensi urine ( s-d edema ), urine keruh mungkin normal ( adanya mukus ) atau mengindikasikan proses infeksi.
3. Dorong dan ajarkan tehnik relaksasi
R. mengembalikan perhatian dan meningkatkan rasa control
4. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesik
R. menghilangkan nyeri
Lakukan persiapan pasien dalam pelaksanaan tindakan medispemasangan DKdrainase cistostomy
R. persiapan secara matang akan mendukung palaksanaan tindakan dengan baik
2 Gangguan eliminasi urine ( retensio urine ) b-d adanya hematoma dan ekstravasasi
Tujuan :
menunjukkan penurunan anxietas dan menyatakan pemahaman tentang proses penyakitnya 1. Ajarkan tentang proses penyakit dan penyebab penyakit
R. dengan pengajaran meningkatkan pengetahuan pasien , menurunkan kecemasan pasien
2. Anjurkan pasien dan orang terdekat untuk mengungkapkan tentang rasa takut , berikan privasi tanpa gangguan , sediakan waktu bersama mereka untuk mengembangkan hubungan
R. pasien yang merasa nyaman berbicara dengan perawat , mereka sering dapat memahami dan memasukkan perubahan kebutuhan dalam praktek dengan sedikit kesulitan.
3. Beri informasi dan diskusikan prosedur dan pentingnya prosedur medis dan perawatan
R. informasi yang adekuat meningkatkan pengetahuan dan koopereratif pasien
4. Orientasikan pasien terhadap lingkungan , obat-obatan , dosis , tujuan , jadwal dan efek samping , diet , prosedur diagnostik
R. pengorientasian meningkatkan pengetahuan pasien


3 Potensial infeksi b-d efek pemasangan DK
Tujuan :
menurunkan atau mencegah terjadinya infeksi 1. Pertahankan tehnik steril dalam pemasangan kateter , berikan perawatan kateter steril dalam manipulasi selang
R. mencegah pemasukan bakteri dan kontaminasi yang menyebabkan infeksi
2. Gunakan tehnik mencuci tangan yang baik dan ajarkan serta anjurkan pasien melakukan hal yang sama
R. mengurangi kontaminasi yang menyebabkan infeksi
3. Observasi tanda-tanda infeksi
R. deteksi dini adanya infeksi dan menentukan tindakan selanjutnya
4. Perhatikan karakter , warna , bau , dari drainase dari sekitar sisi kateter
R. drainase purulent pada sisi insersi menunjukkan adanya infeksi lokal
5. Intruksikan pasien untuk menghindari menyentuh insisi , balutan dan drainase
R. mencegah kontaminasi penyebab penyakit
6. Kolaborasi dalam pemberian anti biotika sesuai indikasi
R. mengatasi infeksi dan mencegah sepsis
4

5



D. IMPLEMENTASI
Implementasi pada asuhan keperawatan rupture uretra dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah di buat.
E. EVALUASI
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN EVALUASI
1 Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) b-d adanya trauma urethra
Anxietas b-d kurangnya pengetahuan tentang penyakitnyaPotensial infeksi b d efek pemasangan DK menunjukkan kemampuan untuk membantu dalam tindakan kenyamanan umum dan mampu untuk tidur / istirahat dengan tenang
2 Gangguan eliminasi urine ( retensio urine ) b-d adanya hematoma dan ekstravasasi
1. mengungkapkan masalah anxietas dan tak pasti pada pemberi perawatan atau orang terdekat
2. mengidentifikasi mekanisme koping yang adaptif
3. memulai penggunaan tehnik relaksasi
kooperatif terhadap tindakan yang dilakukan
3 Potensial infeksi b-d efek pemasangan DK
tidak terdapat tanda-tanda infeksi
4

Readmore..

Asuhan Keperawatan VESIKOLITHIASIS

DUTA4DIAGNOSA
BAB I
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM URINARY
I. Pengertian
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
II. Susunan Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), c) satu vesika urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan d) satu urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria.
a. Ginjal (Ren)
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dexter yang besar.Fungsi ginjal adalah:
• Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
• Mempertahankan suasana keseimbangan cairan,
• Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan
• Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
Fascia Renalis terdiri dari:
Fascia renalis terdiri dari:
• fascia (fascia renalis),
• Jaringan lemak peri renal, dan
• kapsula yang sebenarnya (kapsula fibrosa), meliputi dan melekat dengan erat pada permukaan luar ginjal
Struktur Ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat cortex renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renalis di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus.. Pelvis renalis berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores.
Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari : Glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus urinarius.
Proses pembentukan urin
Tahap pembentukan urin
• Proses Filtrasi ,di glomerulus
Terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus ginjal. cairan yang di saring disebut filtrate gromerulus.
• Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glikosa, sodium, klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
• Proses sekresi.
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar.


Vaskularisasi Ginjal
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi arteria interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi arteriolae aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus. Kapiler darah yang meninggalkan gromerulus disebut arteriolae eferen gromerulus yang kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior.
Persarafan Ginjal
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis(vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal.
b. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke vesika urinaria. Panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak pada rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
• Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
• Lapisan tengah lapisan otot polos
• Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltic yang mendorong urin masuk ke dalam kandung kemih.
c. Vesika Urinaria (Kandung Kemih)
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir (kendi). letaknya d belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet.
Dinding kandung kemih terdiri dari:
• Lapisan sebelah luar (peritoneum).
• Tunika muskularis (lapisan berotot).
• Tunika submukosa.
• Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).

d. Uretra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan air kemih ke luar.
Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2 cm, terdiri dari:
• Urethra pars Prostatica
• Urethra pars membranosa ( terdapat spinchter urethra externa)
• Urethra pars spongiosa.
Urethra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis). Sphincter urethra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan urethra disini hanya sebagai saluran ekskresi.
Dinding urethra terdiri dari 3 lapisan:
• Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria. Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup.
• Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf.
• Lapisan mukosa.

e. Urin (Air Kemih)
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
• Jumlah ekskresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
• Warna, bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
• Warna, kuning tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya.
• Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
• Berat jenis 1,015-1,020.
• Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam.

Komposisi air kemih, terdiri dari:
• Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
• Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
• Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat.
• Pagmen (bilirubin dan urobilin).
• Toksin.
• Hormon.


III. Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
a. Kandung kemih terisi secara progresif hingga tegangan pada dindingnya meningkat melampaui nilai ambang batas (Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-230 ml urin), keadaan ini akan mencetuskan tahap ke 2.
b. adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang) Sebagian besar pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan dapat di pelajari “latih”. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat Vesika Urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis: impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi MIKTURISI (normal: tidak nyeri).

Ciri-Ciri Urin Normal
a. Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk.
b. Warnanya bening oranye tanpa ada endapan.
c. Baunya tajam.
d. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.





BAB II
KONSEP DASAR MEDIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA SISTEM URINARY DENGAN DIAGNOSA MEDIS VESIKOLITHIASIS

I. PENGERTIAN
a. Visikolithiasis adalah batu yang terdapat dalam vesikourinaria atau kandung kemih. (M.A HENOARSON)
b. Visikolithiasis adalah batu kecil yang berasal dari ginjal dapat turun kevesikourinaria lalu menjadi besar disana, kadang-kadang batu timbul langsung didalam kandung kemih. (G. OSWARI).
c. Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter, kandung kemih), tetapi yang paling sering ditemukan ada di dalam ginjal (Long, 1996:322).
d. Vesikolitiasis merupakan batu yang menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri ( Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 1998:1027).
e. Pernyataan lain menyebutkan bahwa vesikolitiasis adalah batu kandung kemih yang merupakan keadaan tidak normal di kandung kemih, batu ini mengandung komponen kristal dan matriks organik (Sjabani dalam Soeparman, 2001:377).
f. Vesikolitiasis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin (Smeltzer, 2002:1460).
II. Etiologi
Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat dan perubahan metabolisme kalsium).
Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378) batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah
a. Hiperkalsiuria
Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.
b. Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.
c. Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.
d. Penurunan jumlah air kemih
Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.
e. Jenis cairan yang diminum
Minuman yang banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel dan jus anggur.
f. Hiperoksalouria
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.
g. Ginjal Spongiosa Medula
Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).
h. Batu Asan Urat
Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan hiperurikosuria (primer dan sekunder).
i. Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan organisme yang memproduksi urease.
Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :
1. 75 % kalsium.
2. 15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
3. 6 % batu asam urat.
4. 1-2 % sistin (cystine).
III. Pathofisiologi
Kelainan bawaan atau cidera, keadan patologis yang disebabkan karena infeksi, pembentukan batu disaluran kemih dan tumor, keadan tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan yang menyebabkan sumbatan aliran kemih baik itu yang disebabkan karena infeksi, trauma dan tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau struktur uretra sehingga terjadi bendungan dan statis urin. Jika sudah terjadi bendungan dan statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu (Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 2001:997).
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi






























IV. Manifestasi Klinis
Menurut Dr willie japans, 1993 bahwa tanda dan gejala atau keluhan tidak selalu ditemukan pada penderita yang mengidap batu saluran kemih. Bila batunya masih kecil atau besar tapi tidak berpindah, tidak meregang atau menyumbat permukaan saluran kemih, tidak akan timbul keluhan seperti biasa sampai suatu saat mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat melalukan check up dan poto roentgen tampak ada batu pada ginjal. Jika pada suatu saat batu tergeser mengelilingi ginjal kebawah, maka timbullah gejala nyeri hebat pada daerah pinggang. Saluran ureter yang menghubungkan ginjal dan kandung kamih kecil sekali sehingga batu akan meregangkan dindingnya, bahkan merobek menyumbat lubang visika. Jika batu berhasil sampai bagian bawah saluran ureter maka nyeri akan berpindah dan terasa merambat kearah kemaluan atau daerah pangkal paha. Biasanya disertai keluar darah bersama air. Bila lukanya kecil, darah yang keluarpun sedikit dan hanya dapat dilihat dengan mokroskop. Sumbatan atau regangan batu pada kandung kemih dapat juga menimbulkan nyeri pada konstan dan tumpul pda daerah atas kemaluan pada waktu kencing, kencing tidak tuntas, pancaran kencing tidak kuat.
Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung (Smeltzer, 2002:1461).
Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, dan lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat (Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri yang luar biasa di daerah antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi ginjal yang terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis), biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang punggung.
Selain tanda diatas, tanda hidronefrosis yang lain menurut Samsuridjal (http://www.medicastore.com, 4 Desember 2009) adalah:
a. Hematuri.
b. Sering ditemukan infeksi disaluran kemih.
c. Demam.
d. Rasa nyeri di daerah kandung kemih dan ginjal
e. Mual.
f. Muntah.
g. Nyeri abdomen.
h. Disuria.
i. Menggigil.
V. PROSEDUR DIAGNOSTIK/PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi pemeriksaan:
a. Urine
• pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat.
• Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
• Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
• Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat apakah terjadi hiperekskresi.
b. Darah
• Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
• Lekosit terjadi karena infeksi.
• Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
• Kalsium, fosfat dan asam urat.
c. Radiologis
• Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau tidak.
• Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan dengan antegrad pielografi tidak memberikan informasi yang memadai.
d. USG (Ultra Sono Grafi)
Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.





VI. PETATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan batu saluran kemih tergantung pada besar kecilnya batu yang terdapat pada saluran kencing. Batu yang kecil biasanya dihancurkan (lithalapaxy) dengan systoskopy penghancur yang khusus (lithtripsy) dan pecahannya dikeluarkan melalui lavase kandung kemih. Sedangkan batu yang besar memerlukan operasi. Kandung kemih dibuka (lithotomic suprapubis) dan batunya dikeluarkan dan diangkat.Menurut Soeparman ( 2001:383) pengobatan dapat dilakukan dengan :
1) Mengatasi Simtom
Ajarkan dengan tirah baring dan cari penyebab utama dari vesikolitiasis, berikan spasme analgetik atau inhibitor sintesis prostaglandin, bila terjadi koliks ginjal dan tidak di kontra indikasikan pasang kateter.
2) Pengambilan Batu
a. Batu dapat keluar sendiri
Batu tidak diharapkan keluar dengan spontan jika ukurannya melebihi 6 mm.
b. Vesikolithotomi.
c. Pengangkatan Batu
• Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal
Prosedur non invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu. Litotriptor adalah alat yang digunakan untuk memecahkan batu tersebut, tetapi alat ini hanya dapat memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm ke bawah. Bila batu di atas ukuran ini dapat ditangani dengan gelombang kejut atau sistolitotomi melalui sayatan prannenstiel. Setelah batu itu pecah menjadi bagian yang terkecil seperti pasir, sisa batu tersebut dikeluarkan secara spontan.
• Metode endourologi pengangkatan batu
Bidang endourologi mengabungkan ketrampilan ahli radiologi mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Batu diangkat dengan forseps atau jarring, tergantung dari ukurannya. Selain itu alat ultrasound dapat dimasukkan ke selang nefrostomi disertai gelombang ultrasonik untuk menghancurkan batu.
• Ureteroskopi
Ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses ureter dengan memasukkan alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser, litotrips elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian diangkat.
VII. KOMPLIKASI
Batu yang letaknya pada ureter dapat memberikan komplikasi obstruksi baik sebagian atau total. Obstruksi yang lama biasanya disertai dengan infeksi berulang-ulang dan piuria yang sukar ditanggulangi. Obstruksi saluran kemih dapat memberikqn berbagai akibat pada ginjal, baik struktur maupun fungsional yang dipengaruhi oleh sempurnanya obstruksi, lama obstrusi, lokasi obstruksi dan letak infeksi. Soeparman ( 2001:383)
Akibat gangguan struktur tubuh karena obstruksi berbagai fungsi tubuh mengalami perubahan fungsi reabsorpsi menurun dengan meningkatnya tekanan hidrostatik, sedangkan pada pada obstruksi yang persial dapat terjadi penurunan ekresi natrium dan diikuti dengan rendahnya konsentrasi natrium urine serta tingginya osmolaitas. Apabila obstruksi berkelanjutan, RBF (renal blood flow) akan menurun.Soeparman ( 2001:383)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM URINAY DENGAN DIAGNOSA MEDIS BATU BULI-BULI (VESIKOLITHIASIS)

I. PENGKAJIAN
b. Biodata klien dan penanggung jawab
c. Keluhan klien
Nyeri pinggang, sakit saat miksi keluar darah serta nyeri pada supra pubis.
d. Riwayat penyakit sebelumnya
• Apakah klien pernah dirawat sebelumnya bagaimana cara klien mengatasi nyeri (mis. Nyeri berkurang jika klien bnyak minum dan mengurangi aktifitas
• Apakah klien ada riwayat alergi
e. Riwayat penyakit keluarga
• Apakah ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama
• Apakah keluarga biasa mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam urat (ikan, daging, jeroan dan ayam)
• Apakah klien biasa minum air yang sudah dimasak
f. Pemahaman klien tentang kejadian
- Ahli bedah bertanggung jawab, untuk menjelaskan sifat operasi, semua pilihan alternatif, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Ahli bedah mendapatkan dua consent (ijin) satu untuk prosedur bedah dan satu untuk anestesi. Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang informasi, lalu memberitahu ahli bedah apakah diperlukan informasi lebih banyak (informed consent).

g. Kondisi akut dan kronis :
- Untuk mengkompensasi pengaruh trauma bedah dan anestesi, tubuh manusia membutuhkan fungsi pernafasan, sirkulasi, jantung, ginjal, hepar dan hematopoetik yang optimal. Setiap kondisi yang mengganggu fungsi sistem ini (misalnya: DM, gagal jantung kongestif, PPOM. Anemia, sirosuis, gagal ginjal) dapat mempengaruhi pemulihan. Disamping itu faktor lain, misalnya usia lanjut, kegemukan dan penyalahgunaan obat / alkohol membuat klien lebih rentan terhadap komplikasi.

h. Pengalaman bedah sebelumnya
- Perawat mengajukan pertanyaan spesifik pada klien tentang pengalaman pembedahan masa lalu. Informasi yang didapatkandigunakan untuk meningkatkan kenyamanan (fisik dan psikologis) untuk mencegah komplikasi serius.
i. Status Nutrisi
- Status nutrisi klien praoperatif secara langsung mempengaruhi responnya pada trauma pembedahan dan anestesi. Setelah terjadi luka besar, baik karena trauma atau bedah, tubuh harus membentuk dan memperbaiki jaringan serta melindungi diri dari infeksi. Untuk membantu proses ini, klien harus meningkatkan masukan protein dan karbohidrat dengan cukup untuk mencegah keseimbangan nitrogen negatif, hipoalbuminemia, dan penurunan berat badan. Status nutrisi merupakan akibat masukan tidak adekuat, mempengaruhi metabolik atau meningkatkan kebutuhan metabolik.
j. Status cairan dan elektrolit
- Klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektolit cenderung mengalami shock, hipotensi, hipoksia, dan disritmia, baik pada intraoperatif dan pascaoperatif. Fluktuasi valume cairan merupakan akibat dari penurunan masukan cairan atau kehilangan cairan abnormal.
k. Status emosi.
- Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan yang direncanakan tergantung pada pengalaman masa lalu, strategi koping, signifikan pembedahan dan sistem pendukung.
- Kebanyakan klien dengan pembedahan mengalami ancietas dan ketakutan yang disebabkan penatalaksanaan tindakan operasi, nyeri, dan immobilitas.
h. Pola eliminasi
- Masalah kebiasaan eliminasi urin pada klien vesikolithiasis ( terganggu ).
- penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.

i. Pola istirahat tidur
- Sering terbangun pada malam hari untuk kencing.
- Klien merasa tidak nyaman.
j. Terapi dan diet.
Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara lain:
- Mengurangi makanan kaya akan kalsium.
- Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari. Kurangi
- Berolahraga secara rutin.
- Pertahankan berat badan ideal.

f. Pemeriksaan Fisik ( hah to toe )
a) Kepala :
Biasanya pada klien dengan vesikolithiasis tidak ada ke abnormalan kepala yang dikarenakan oleh batu buli buli
a) Mata :
Tidak ada tampak ikterik.
b) Mulut dan gigi :
bibir kering, mukosa agak kering.
c) Thorax :
Auskultasi bunyi napas normal
Abdomen :
- Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
- Distensi kandung kemih
- Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik  retensi urine
- Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil  retensi urine
- Perkusi : Redup  residual urine

f) Pemeriksaan penis :
uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
Pengkajian per sistem
• Sistem Pernafasan
Atelektasis bida terjadi jika ekspansi paru yang tidak adekuat karena pengaruh analgetik, anestesi, dan posisi yang dimobilisasi yang menyebabkan ekspansi tidak maksimal. Penumpukan sekret dapat menyebabkan pnemunia, hipoksia terjadi karena tekanan oleh agens analgetik dan anestesi serta bisa terjadi emboli pulmonal.

• Sistem Sirkulasi
Dalam sistem peredaran darah bisa menyebabkan perdarahan karena lepasnya jahitan atau lepasnya bekuan darah pada tempat insisi yang bisa menyebabkan syok hipovolemik. Statis vena yang terjadi karena duduk atau imobilisasi yang terlalu lama bisa terjadi tromboflebitis, statis vena juga bisa menyebabkan trombus atau karena trauma pembuluh darah.
• Sistem Gastrointestinal
Akibat efek anestesi dapat menyebabkan peristaltik usus menurun sehingga bisa terjadi distensi abdomen dengan tanda dan gejala meningkatnya lingkar perut dan terdengar bunyi timpani saat diperkusi. Mual dan muntah serta konstipasi bisa terjadi karena belum normalnya peristaltik usus.
• Sistem Genitourinaria
Akibat pengaruh anestesi bisa menyebabkan aliran urin involunter karena hilangnya tonus otot.
• Sistem Integumen
Perawatan yang tidak memperhatikan kesterilan dapat menyebabkan infeksi, buruknya fase penyembuhan luka dapat menyebabkan dehisens luka dengan tanda dan gejala meningkatnya drainase dan penampakan jaringan yang ada dibawahnya. Eviserasi luka/kelurnya organ dan jaringan internal melalui insisi bisa terjadi jika ada dehisens luka serta bisa terjadi pula surgical mump (parotitis).
• Sistem Saraf
Bisa menimbulkan nyeri yang tidak dapat diatasi.
g. Pemeriksaan penunjang
1) Lab.  hematuria (bila terjadi obstruksi yang lama)
2) Pemeriksaan pielografi intravena
3) Pemeriksaan ultrasonografi
Adanya batu didalam ginjal, vesika urinaria dan tanda-tanda obstruksi urine


j. Pengelompokan data
Data subjektif Data Objektif
a. Klien mengeluh nyeri suprapubis, panggul.
b. Mengeluh kencing menetes ( retensi urine ).
c. Klien mengeluh tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil
d. Klien merasakan nyeri seperti terbakar pada waktu kencing.
e. Klien mengeluh mual / muntah. a. Klien tampak meringis.
b. Peningkatan suhu tubuh klien.
c. Distensi kandung kemih
d. Penonjolan pada daerah supra pubik
e. Pada photo BOP ditemukan batu pada vesika urinari


II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pre Operasi
1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka gesekan batu pada vesika urinaria
2) Perubahan eliminasi (BAK) retensio urine berhubungan dengan adanya penutupan saluran kemih oleh batu dan adanya obstruksi mekanik, peradangan ditandai dengan urgensi dan frekuensi, oliguria (retensi) dan hematuria.
3) Kurangnya pengetahuan tentang prognosis kebutuhan perawatan berhubungan dengan pemahaman dan rencana tindakan
b. Post Operasi
1) Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan ditandai dengan keluhan rasa nyeri terus menerus operasi, ekpresi wajah meringis, nyeri pada angka….(dengan skala 0-10), tingkah laku, focus pada diri sendiri
2) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dampak obat anastesi ditandai dengan pernapasan lebih dari 20 kali permenit, adanya secret pada jalan napas
3) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemasangan kateter, efek medikasi, akumulasi, drainase, status metabolic yang menurun ditandai dengan pemasangan kateter pada permukaan kulit dan jaringan.
4) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan terputus jaringan, dampak dari insisi pembedahan ditandai dengan adanya luka jahitan operasi.


III. RENCANA KEPERAWATAN.
a. Pre Operasi
1) Diagnosa I : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka gesekan batu pada vesika urinaria
No DX Tujuan / Kriteria hasil Itervensi Rasional
1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam nyeri teratasi dengan Kriteria hasil:
 Melaporkan keluhan nyeri berkurang ,
 klien tampak tenang dan tidak meningkatkan.
 klien dapat tidur/istirahat yang cukup.
 Skala nyeri: 0-3
 Pasien tidak mengeluh kesakitan.
 TTV normal:
N : 60-100x/mnt
S: 36,5-37,5 oC
R : 14-20 x/mnt
TD: 120/80 mmHg
• Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karakteristik, intensitas (skala 0-10). Dan perhatikan tanda-tanda peningkatan tekanan darah, nadi, tidak bisa beristirahat, gelisah dan rasa nyeri yang meningkat.
• Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya mengidentifikasi perubahan terjadinya karakteristik nyeri

• Berikan tindakan untuk kenyamanan seperti membatasi pengunjung, lingkungan yang tenang.

• Anjurkan teknik napas dalam sebagai upaya dalam merelaksasi otot.


• Anjurkan/Bantu klien melakukan ambulasi secara teratur sesuai dengan indikasi dan meningkatkan intake cairan minimal 3-4 liter/hari sesuai toleransi jantung
• Catat keluhan meningkatnya nyeri abdomen.



• Berikan kompres hangat pada punggung.


• Pertahankan posisi kateter

Kolaborasi:
• Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
- Narkotik missalnya : meperidin (Demerol) morphin.

- Antispasmodic seperti flavoxate oxybutynin.

- Kortikosteroid Membantu mengevaluasi lokasi nyeri, obstruksi dan pergerakan batu.


Pengetahuan klien dengan penyebab nyeri dapat membantu meningkatkan koping klien dan dapat menurunkan kecemasan.
Meningkatkan relaksasi, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan koping

mengalihkan perhatian sebagai upaya dalam merelaksasi otot.

hidrasi meningkatkan jalan keluarnya batu mencegah urine statis dan mencegah pembentukan batu.
Obstruksi sempurna pada ureter/vesika urinaria dapat menyebabkan perforasi dan ekstra vasasi didalam daerah perineal yang memerlukan pembedahan segera.
Menghilangkan ketegangan otot dan menurunkan reflek spasme sehingga rasa nyeri hilang.
Mencegah urine statis/retensi mengurangi vesiko meningkatnya tekanan renal dan infeksi.
Biasanya diberikan pada fase akut untuk menurunkan kolik dan meningkatkan relaksasi otot/mental.
Menurunkan reflek spasme yang dapat menurunkan kolik dan nyeri.
Digunakan untuk meningkatkan edema jaringan, untuk memfasilitasi gerakan batu.

2) Diagnosa II: Perubahan eliminasi (BAK) retensio urine berhubungan dengan adanya penutupan saluran kemih oleh batu dan adanya obstruksi mekanik, peradangan ditandai dengan urgensi dan frekuensi, oliguria (retensi) dan hematuria
No DX Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional
2 Perubahan pola eliminasi BAK :
Retensio urin teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam dengan criteria hasil:
 Urine dalam jumlah normal,
 pola BAK seperti biasa/ normal,
 Kandung kemih kosong sempurna
 nyeri hilang saat kencing Mandiri:
• Monitor out put intake serta karakteristik urine.


• Anjurkan klien untuk meningkatkan intake cairan (minimal 3 – 4 liter/hari sesuai dengan toleransi jantung.

• Tampung urine 24 jam catat jika ada batu yang ikut keluar dan kirim kelaboratorium untuk dianalisa.


• Observasi perubahan warna, bau, PH urine setiap 2 jam.


Kolaborasi:
 Kolaborasi dalam memonitor pemeriksaan laboratorium seperti elektrolit BUN (Blood Urea Nitrogen), keratin.

Memberikan info tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi seperti infeksi dan perdarahan dapat mengidentifikasi peningkatan obstruksi atau iritasi ureter
Meningkatkan hidrasi dapat mengeluarkan bakteri darah dan dapat mamfasilitasi pengeluaran batu.

Dapat membantu dalam mengidentifikasi tipe batu dan akan membantu pilihan terapi.



Untuk deteksi dini masalah pengumpulan ureum dan ketidakseimbangan setiap elektrolit dapat menjadi racun terhadap CNS (Central Nervus System)

Peningkatan BUN, Kreatinin, dan elektrolit-elektrolit tertentu menindikasikan adanya disfungsi ginjal.


3) Diagnosa III: Kurangnya pengetahuan tentang prognosis kebutuhan perawatan berhubungan dengan pemahaman dan rencana tindakan
No DX Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional
3 setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 1 jam ketakutan tertasi dengan criteria hasil:
 Klien dapat mengungkapkan perasaannya dan mengidentifikasi cara yang tepat untuk menangani kecemasannya
 Klien tampak rileks dapat tidur/istirahat dengan cukup.
 Klien menyatakan Ketakutan dan kecemasannya berkurang sampai tingkat dapat di tangani.
 Klien memahami penyebab terjadinya cemas.
Mandiri:
• Adakan kunjungan pada klien dengan personal ruangan bedah sebelum operasi jika mungkin diskusikan hal-hal yang kiranya dapat menimbulkan ketakutan kekhawatiran pada klien misalnya masker, lampu, elektroda, suara outoclave, tangisan kecil.
• Informasikan tentang peran perawat sebagai klien intraperatif pada klien.

• Identifikasi tingkak ketakukan klien yang mungkin mengharuskan penundaan prosedur operasi.



• Beritahu klien tentang anastesi spinal/general yang akan membuat klien tidak sadar/tertidur, dimana jumlah yang lebih akan diberikan jika perlu
• Perkenalkan staf operasi saat klien dipindahkan keruang operasi
• Bandingkan jadwal operasi, status klien, tingkat operasi dan bicarakan informed consent.
Dapat memberikan ketenangan/ketentraman hati dan meredakan kecemasan klien sekaligus memberikan informasi untuk tindakan operatif.



Membina hubungan saling percaya, mengurangi ketakutan akan kehilangan control dilingkungan yang baru/asing.
Ketakutan yang berlebihan atau yang menetap dapat menyebabkan reaksi stress yang berlebihan yang beresiko atau munculnya reaksi yang merugikan terhadap prosedur pembedahan dan obat anastesi.

Menurunkan kecemasan atau ketakutan bahwa klien melihat prosedur operasi


Memberi hubungan dan kenyamanan psikis

Menurunkan ketakuatan bahwa prosedur yang salah mungkin dilakukan




IV. Post Operasi
1) Diagnosa I: Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dampak obat anastesi ditandai dengan pernapasan lebih dari 20 kali permenit, adanya secret pada jalan napas.

No DX Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Jalan napas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam dengan criteria hasil:
• pola respirasi klien normal (respirasi 16-20) kali permenit),
• Tidak ada ronchi dan stridor,
• Tidak adanya sianosis dan
• tanda-tanda hipoksia lainnya
Mandiri:
• Tidurkan klien dengan posisi terlentang dengan kepala dimiringkan selama kesadaran belum pulih
• Auskultasi suara napas, dengarkan adanya wheezing crowing dan tidak adanya suara napas setelah ekspirasi




• Observasi frekuensi kedalaman penggunaan otot-otot Bantu pernapasan, pernapasan cuping hidung, warna kulit dan mukosa

• Monitor tanda-tanda vital secara teratur

• Observasi tingkat kesadaran



• Observasi kebersihan jalan napas dan kebersihan sisa muntahan yang masih tertiggal (dimulut, melakukan section bila perlu)
Kolborasi:
• Kolaborasi dalam pemberian O2 intake sesuai indikasi

Posisi tersebut menurunkan resiko aspirasi karena secret terlentang dan dapat keluar lewat mulut

Kurangnya perbedaannya suara napas merupakan indikasi adanya obstruksi oleh mukusa/lidah yang dapat dikoreksi dengan pengaturan posisi/suction wheezing dapat merupakan indikasi bronkho spasma, berkurangnya suara napas menandakan parsia, total laring spasme

Memastikan keefektifan respirasi dengan segera sehingga tindakan, koreksi dapat dilakukan segera jika diperlukan

Respirasi yang meningkat, takikardi dan atau barikardi dapat bergerak pada hipoksia
Dengan mengobservasi tingkat kesadaran klien dapat diketahui perkembangan klien dan keberhasilan operasi, serta menentukan tindakan keperawatan selanjutnya
Obstruksi jalan napas dapat terjadi, larutan section bila perlu atau mucus didalam tenggorokan/trakea.


Memaksimalkan O2 intake untuk berkaitan dengan Hb





2. Diagnosa II: Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan ditandai dengan keluhan rasa nyeri terus menerus operasi, ekpresi wajah meringis, nyeri pada angka….(dengan skala 0-10), tingkah laku, focus pada diri sendiri
No DX Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional
2 gangguan rasa nyaman nyeri teratasi setelah dilakukan tindakan keperwatan selama1 x 24 jam dengan criteria hasil :
 Melaporkan keluhan nyeri berkurang ,
 klien tampak tenang dan tidak meningkatkan.
 klien dapat tidur/istirahat yang cukup.
 Skala nyeri: 0-3
 Pasien tidak mengeluh kesakitan.
 TTV normal:
N : 60-100x/mnt
S: 36,5-37,5 oC
R : 14-20 x/mnt
TD: 120/80 mmHg

Mandiri:
• Monitor dan dokumentasikan lokasi dan tempat dari nyeri, catat umuir klien, berat badan, catatan medis/problem psikologis, kesensitipan terhadap analgetik tertentu, hasil intraOperatif seperti ukuran, lokasi, insisi
• Review laporan intraoperatif/respirasi atau mengetahui tipe anastesi dan obat-obatan yang dilakukan.



• Evaluasi nyeri secara teratur (setiap 2 jam), catat karakteristik lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10)
• Anjurkan untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti latihan napas dalam
• posisikan sesuai indikasi, misalnya semifowler.

• Berikan informasi tentang ketidaknyamanan yang akan terjadi yang hanya bersifat sementara
Kolaborasi:
• Kolaborasi pemberian analgetik intravena sesuai indikasi
Pendekatan penagananan nyeri post operatif tingkatan pada berbagai factor.



klien yang dianastesi dengan fluthane dan ether dapat mengalami efek analgetik sisa/residu sebagai tambahan, intraoperatif : Blokoka/regional memiliki waktu yang bervariasi yaitu 1-2 jam untuk regional atau lebih 2-6 jam untuk lokal
Memberikan informasi tentang kebutuhan untuk dan atau keaktifan intervensi

Menghilangkan ketegangan otot dan dapat meningkatkan kemampuan koping
Dapat menghilangkan nyeri dan menunjang sirkulasi jaringan, semifowler dapat menurunkan tegangan otot abdomen dan tulang belakang
Pemahaman tentang ketidaknyaman dapat memberikan keterangan emosional


Analgetik intra vena akan mencapai pusat nyeri dengan segera.

3) Diagnosa III: Resiko tinggi kerusakan integritas jaringan kulit
No DX Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional
3 Gangguan integritas jaringan kulit teratsi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam dengan criteria hasil:
• luka sembuh sesuai dengan waktu yang ditentukan,
• klien dapat mendemontrasikan teknik/prilaku yang menunjang penyembuhan dan pencegahan komplikasi
Mandiri:
• Lepaskan plester dan balutkan dengan lembut
• Infeksi luka secara teratur, catat karakteristik dan integritasnya.


• Kaji jumlah dan karakteristik drainase




• Anjurkan klien untuk tidak menyentuh luka
• Ganjal area insisi pada abdomen dengan bantal pada saat batuk/ bergerak


Ganti dan keluarkan balutan sesuai indikasi, rawat luka yang menggunakan teknik aseptic



Kolaborasi:
• Kolaborasi dalam pemberian es jika diperlukan, penmggunaan abdominal binder-iritasi luka disertai debridement sesuai kebutuhan
Menurunkan resiko trauma pada kulit dan gangguan pada luka operasi
Pengenalan dini terhadap adanya penyembuhan yang terlambat atau perkembangan kearah komplikasi dapat mencegah situasi yang lebih serius
Penurunan jumlah drainase mengarah kepada kemajuan proses penyemabuhan, sedangkan drainase yang tepat/ mengandung darah eksudat menandakan adanya komplikasi.
Mencegah terkontaminasinya luka

Menggunakan tekanan pada luka, meminimalkan resiko terputusnya jahitan atau rupturnya jaringan

Melindungi luka dari injuri mekanik dan kontaminasi, mencegah akumulasi cairan/eksudat yang dapat mengakibatkan infeksi




Menurunkan pembentukan edema


4) Diagnosa IV: Resiko tinggi infeksi
No Dx Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi Rasional
4 infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam dengan criteria hasil:
 tidak ada tanda-tanda infeksi luka : purulent, drainase, eritema,
 luka sembuh pada waktunya.
 Tanda – tanda vital normal
N : 60-100x/mnt
S: 36,5-37,5 oC
R : 14-20 x/mnt
TD: 120/80 mmHg

 Mandiri:
Observasi tanda-tanda infeksi pad luka post operasi


Monitor tanda-tanda vital, catat serangan panas, perubahan kesadaran, atau keluhan meningkatnya nyeri yang hebat.
Infeksi insisi dan balutan, catat karakteristik drainase dari luka/drainase adanya erytema

Monitor kelancaran drain, hitung output dan warna cairan

Berikan informasi tentang hal-hal yang mempengaruhi daya tahan tubuh



Berikan diit TKTP
Tinggi kalori berguna untuk :
1. Sebagai sumber energi/tenaga atau proses pergerakan tubuh
2. menyediakan structure material utnuk jariangan tubuh seperti tulang dan otot. Tinggi zat pembangun, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan, pengganti zat-zat yang rusak/aus
3. sebagai badan-badan inti, berfungsi sebagai pertahanan tubuh melawan berbagai mikroba dan zat-zat toksin yang dating dari luar tubuh
4. sebagai zat pengatur, protein mengatur proses-proses metabolisme dalam bentuk enzim dan hormone
5. sebagai salah satu sumber utama energi bersama-sama dengan karbohidrta dan lemak
6. dalam bentuk kromosom, protein berperan dalam penyimpanan dan meneruskan sifat-ifat keturunan dalam bentuk gen.

Lakukan cuci tangan yang baik dan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan



Kolaborasi:
Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat yang sesuai

Dapat diketahui secra dini tanda-tanda infeksi pada luka operasi seperti edema, kemerahan, nyeri, yang bertambah berat/terdapat pus pada luka tersebut
Merupakan tanda-tanda adanjya peradangan/sepsis yang berkembang

Infeksi dini dari perkembangan proses infeksidan atau memonitor perkembangan kearah abses
Dapat diketahui adanya infeksi pada luka operasi

Dengan meningkatkan pengetahuan klien tentang hal-hal yang mempengaruhi daya tahan tubuh diharapkan klien dapat kooperatif dengan tindakan keperawatan yang akan dilakuakan


Makanan yang bergizi dapat menambah meningkatnya daya tahan tubuh, sehingga resiko infeksi dapat diperkecil





















Menurunkan resiko penyebaran bakteri, mencegah terjadinya infeksi nosokomial





Dapat memberikan propilaksis/menurunkan jumlah organisme untuk menurunkan membrane lebih lanjut.


IV. IMPLEMENTASI
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan.

V. EVALUASI
NO Dx Evaluasi Paraf
1 S: Pasien mengatakan nyerinya berkurang
O : klien tampak relaks
 TTV normal:
N : 60-100x/mnt
S: 36,5-37,5 oC
R : 14-20 x/mnt
TD: 120/80 mmHg
A;
P: masalah teratasi
2 S: klien mengatakan bisa BAK dengan lancar tanpa menetes
O: Urine dalam jumlah normal
A:
P: masalah teratasi
3 S: klien mengatakan mampu mengidentifikasi cara yang tepat untuk menangani kecemasannya
O: Klien tampak rileks dapat tidur/istirahat dengan cukup
A:
P: masalah teratasi
4 S: klien mengatakan mampu bernafas dengan lancar.
O: Tidak ada ronchi dan stridor,
• Tidak adanya sianosis dan
• tanda-tanda hipoksia lainnya
A:
P: masalah teratasi

Readmore..

Sabtu, 22 Mei 2010

Asuhan Keperawatan Pada Pasien BPH

| Sabtu, 22 Mei 2010 | 1 komentar

DUTA4DIAGNOSA
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
a. BPH adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria di atas usia 60 tahun ( buku ajar keperawatan medical bedah, 2001: 1625 )
b. Benign Prostatic Hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar/jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr Soetomo, 1994 : 193).
c. BPH adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter ( Askep BPH « Hidayat2’s Blog )
d. Pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umun pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebebkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius. ( Askep BPH « Hidayat2’s Blog )

B. Anatomi fisiologi
Kelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar Bledder neck dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira-kira 20 gram dengan ukuran rata-rata:- Panjang 3.4 cm- Lebar 4.4 cm- Tebal 2.6 cm. Secara embriologis terdiro dari 5 lobur:- Lobus medius 1 buah- Lobus anterior 1 buah- Lobus posterior 1 buah- Lobus lateral 2 buah. Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi saru disebut lobus medius. Pada penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Pada potongan melintang uretra pada posterior kelenjar prostat terdiri dari:
- Kapsul anatomis
- Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler- Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian:
a. Bagian luar disebut kelenjar sebenarnya
b. Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal, lapisan ini disebut juga sebagai adenomatus zone
c. Di sekitar uretra disebut periuretral gland

Saluran keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang bermuara ke dalam uretra. Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur, sedangkan pada oran dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya mudah teraba.Sedangkan pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi prostat, jaringan prostat masih baik. Pertambahan unsur kelenjar menghasilkan warna kuning kemerahan, konsisitensi lunak dan berbatas jelas dengan jaringan prostat yang terdesak berwarna putih ke abu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan keluar cairan seperti susu.Apabila jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu, padat dan tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini dapat menekan uretra dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah. Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi fibrosis jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari vesika yang dapat mengakibatkan peradangan ( eveline : 2001 )

C. Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya Benign Prostatic Hyperplasia sampai sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benign Prostatic Hyperplasia yaitu testis dan usia lanjut.
Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya Benign Prostatic Hyperplasia antara lain :
1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia.
2. Ketidak seimbangan estrogen – testoteron
Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap. yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma.

3. Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel.
4. Penurunan sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
5. Teori stem cell
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.
D. Patofisiologi
Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas ke atas (bladder), di dalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dan buli-buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urine keluar. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa : Hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sekula dan difertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kencing bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom/LUTS.
Pada fase-fase awal dari Prostat Hyperplasia, kompensasi oleh muskulus destrusor berhasil dengan sempurna. Artinya pola dan kualitas dari miksi tidak banyak berubah. Pada fase ini disebut Sebagai Prostat Hyperplasia Kompensata. Lama kelamaan kemampuan kompensasi menjadi berkurang dan pola serta kualitas miksi berubah, kekuatan serta lamanya kontraksi dari muskulus destrusor menjadi tidak adekuat sehingga tersisalah urine di dalam buli-buli saat proses miksi berakhir seringkali Prostat Hyperplasia menambah kompensasi ini dengan jalan meningkatkan tekanan intra abdominal (mengejan) sehingga tidak jarang disertai timbulnya hernia dan haemorhoid puncak dari kegagalan kompensasi adalah tidak berhasilnya melakukan ekspulsi urine dan terjadinya retensi urine, keadaan ini disebut sebagai Prostat Hyperplasia Dekompensata. Fase Dekompensasi yang masih akut menimbulkan rasa nyeri dan dalam beberapa hari menjadi kronis dan terjadilah inkontinensia urine secara berkala akan mengalir sendiri tanpa dapat dikendalikan, sedangkan buli-buli tetap penuh. Ini terjadi oleh karena buli-buli tidak sanggup menampung atau dilatasi lagi. Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidak mampuan otot detrusor memompa urine dan menjadi retensi urine. Retensi urine yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal (Price. S.A 2005 ).
WOC
DHT
5 alfa reduktase dan androgen ( ++ ) Esterogen – testosteron
Tidak seimbang Interaksi stroma – epitel Penurunan sel mati
( apoptosis )


















E. Manifestasi klinis.
Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu :
1. Gejala Obstruktif yaitu :
a) Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
b) Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
c) Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
d) Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra.
e) Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas.
2. Gejala Iritasi yaitu :
a) Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
b) Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
c) Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

F. Derajat Benigne Prostat Hyperplasia
Benign Prostatic Hyperplasia terbagi dalam 4 derajat sesuai dengan gangguan klinisnya :
1. Derajat satu, keluhan prostatisme ditemukan penonjolan prostat 1 – 2 cm, sisa urine kurang 50 cc, pancaran lemah, necturia, berat + 20 gram.
2. Derajat dua, keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nucturia bertambah berat, panas badan tinggi (menggigil), nyeri daerah pinggang, prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, sisa urine 50 – 100 cc dan beratnya + 20 – 40 gram.
3. Derajat tiga, gangguan lebih berat dari derajat dua, batas sudah tak teraba, sisa urine lebih 100 cc, penonjolan prostat 3 – 4 cm, dan beratnya 40 gram.
4. Derajat empat, inkontinensia, prostat lebih menonjol dari 4 cm, ada penyulit keginjal seperti gagal ginjal, hydroneprosis.

G. Pemeriksaan penunjang
Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk
a. Menentukan volume Benign Prostatic Hyperplasia.
b. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine.
c. Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benign Prostatic Hyperplasia atau tidak
1. Beberapa Pemeriksaan Radiologi
a. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli.
Indikasi : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis
Tanda BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter
b. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
c. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra.
d. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas
2. Pemeriksaan Endoskopi
Sistoskopi, untuk melihat saluran kencing, kandung kencing dan prostat.
3. Pemeriksaan Uroflowmetri
Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli

Q max : > 15 ml/detik  non obstruksi
10 - 15 ml/detik  border line
< 10 ml/detik  obstruktif 4. Pemeriksaan Laboratorium a) Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K, Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur). Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah atau PUS. b) RFT  evaluasi fungsi renal (tes fungsi ginjal dapat dilakukan untuk memantau fungsi ginjal, agar melihat apakah kerusakan dapat menjadi lebih berat atau pun pulih. c) Serum Acid Phosphatase  Prostate Spesific Antigen (PSA) Tes darah sederhana dilakukan untuk mengukur kadar PSA yaitu protein yang diproduksi oleh prostat. Nilai PSA normal bervariasi sesuai usia dan ras. Umumnya, semakin tinggi kadar PSA, semakin besar risiko kanker prostat. Pembesaran prostat benigna (jinak), infeksi saluran urin dan radang prostat juga dapat menyebabkan kenaikan PSA. PSA Normal: usia 40-49 (kurang dari 2.5 µg/L), 50-59 (kurang dari 3 µg/L), 60-69 (kurang dari 4 µg/L). Trauma bedah yang direncanakan, menimbulkan rentang respon fisiologis dan psikologis pada klien, tergantung pada individu dan pengalaman masa lalu yang unik, pola koping, kekuatan dan keterbatasan. Kebanyakan klien dan keluarganya memandang setiap tindakan bedah merupakan peristiwa besar dan mereka bereaksi dengan takut dan ansietas pada tingkat tertentu. H. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalah. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksic. Hernia / hemoroidd. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya batu. Hematuria. Sistitis dan Pielonefritis I. Penatalaksanaan Rencana pengobatan bergantung pada penyebab, keparahan obstruksi dan kondisi pasien. Jika pasien masuk rumah sakit dalam keadaan darurat karena dia tidak dapat berkemih, maka kateterisasi segera dilakukan. Pada kasus yang berat, mungkin digunakan kateter logam dengan tonjolan kurva prostatic. Kadang suatu insisi dibuat ke dalam kandung kemih ( sistotomi suprapubik ) untuk drainase yang adekuat. Meskipun prostatektomi untuk membuang jaringan prostat yang mengalami hiperplastik sering dilakukan, terdapat juga pengobatan lain. Pengobatan ini mencakup “watch-full waiting” insisi prostat transurethral ( TUIP ) dilatasi balon, penyekat alfa, dan inhibitor 5-α-reduktase ( AHCPR, 1994 ). “watch-full waiting” adalah pengobatan yang sesuai bagi banyak pasien karena kecenderungan progresi penyakit atau terjadinya komplikasi tidak diketahui. Penyekat reseptor alfa-1-andregenik ( mis : terazosin ) melemaskan otot halus kolum kandung kemih dan prostat. Meskipun kemanjuran jangka panjang preparat ini tidak diketahui, preparat ini benar dapat menurunkan gejala pada banyak pasien. Karena telah diidentifikasi adanya komponen hormonal pada hiperlasia prostatic jinak, salah satu metode pengobatanmencakup manipulasi hormonal dengan preparat anti androgen seperti finasteride ( proscar ). Pada penelitian klinis, inhibitor 5α-reduktase seperti finasteride terbukti efektif dalam mencegah perubahan testosteron menjadi hidrotestosteron. Menurunnya kadar hidrotestosteron menunjukkan supresi aktifitas ssel glandular dan penurunan ukuran prostat. Efek samping dari medikasi ini termasuk ginekomastia, disfungsi erektil dan wajah kemerahan. Pembedahan : 1. Trans Uretral Reseksi Prostat : 90 - 95 % 2. Open Prostatectomy : 5 - 10 % BPH yang besar (50 - 100 gram)  Tidak habis direseksi dalam 1 jam. Disertai Batu Buli Buli Besar (>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada.
Mortalitas Pembedahan BPH
0 - 1 % KAUSA : Infark Miokatd
Septikemia dengan Syok
Perdarahan Massive
Indikasi Pembedahan BPH
a. Retensi urine akut
b. Retensi urine kronis
c. Residual urine lebih dari 100 ml
d. BPH dengan penyulit
- Hydroneprosis
- Terbentuknya Batu Buli
- Infeksi Saluran Kencing Berulang
- Hematuri berat/berulang
- Hernia/hemoroid
- Menurunnya Kualitas Hidup
- Retensio Urine
- Gangguan Fungsi Ginjal
e. Terapi medikamentosa tak berhasil
f. Sindroma prostatisme yang progresif
g. Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif
- Flow. Max kurang dari 10 ml
- Kurve berbentuk datar
- Waktu miksi memanjang
Kontra Indikasi
• IMA
• CVA akut

Tujuan :
• Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli
• Memperbaiki kualitas hidup.
1) Trans Uretral Reseksi Prostat  90 - 95 %
Jaringan prostat dengan sitoskop dimasukkan melalui uretra.
Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial.
Keuntungan :
- Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan
- Tak perlu insisi pembedahan
- Hospitalisasi dan penyebuhan pendek
Kerugian :
- Jaringan prostat dapat tumbuh kembali
- Kemungkinan trauma urethra  strictura urethra.
2) Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
Jaringan prostat diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan kandung kemih.
- Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih.
3) Perineal Prostatectomy
Massa prostat diangkat melalui insisi diantara sokrotum dan rectum. Prosedur radikal ini dilakukan untuk kanker dan dapat mengakibatkan impotensi.
- Pembesaran prostat disertai batu buli-buli
- Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservative
- Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat

4) Suprapubik / open prostatektomi
Diindikasikan untuk massa lebih dari 60 gr. Penghambat jaringan prostat diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat melalui kandung kemih. Pendekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung kemih.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN PERKEMIHAN DENGAN DIAGNOSA MEDIS
“ BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA”

A) Pengkajian Benigne Prostat Hyperplasia
a. Riwayat Keperawatan
- Suspect BPH  umur > 60 tahun
- Pola urinari : frekuensi, nocturia, disuria.
- Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.
- BPH  hematuri
b. Pemahaman klien tentang kejadian
- Ahli bedah bertanggung jawab, untuk menjelaskan sifat operasi, semua pilihan alternatif, hasil yang diperkirakan dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Ahli bedah mendapatkan dua consent (ijin) satu untuk prosedur bedah dan satu untuk anestesi. Perawat bertanggung jawab untuk menentukan pemahaman klien tentang informasi, lalu memberitahu ahli bedah apakah diperlukan informasi lebih banyak (informed consent).
c. Kondisi akut dan kronis :
- Untuk mengkompensasi pengaruh trauma bedah dan anestesi, tubuh manusia membutuhkan fungsi pernafasan, sirkulasi, jantung, ginjal, hepar dan hematopoetik yang optimal. Setiap kondisi yang mengganggu fungsi sistem ini (misalnya: DM, gagal jantung kongestif, PPOM. Anemia, sirosuis, gagal ginjal) dapat mempengaruhi pemulihan. Disamping itu faktor lain, misalnya usia lanjut, kegemukan dan penyalahgunaan obat / alkohol membuat klien lebih rentan terhadap komplikasi.

d. Pengalaman bedah sebelumnya
- Perawat mengajukan pertanyaan spesifik pada klien tentang pengalaman pembedahan masa lalu. Informasi yang didapatkandigunakan untuk meningkatkan kenyamanan (fisik dan psikologis) untuk mencegah komplikasi serius.
e. Status Nutrisi
- Status nutrisi klien praoperatif secara langsung mempengaruhi responnya pada trauma pembedahan dan anestesi. Setelah terjadi luka besar, baik karena trauma atau bedah, tubuh harus membentuk dan memperbaiki jaringan serta melindungi diri dari infeksi. Untuk membantu proses ini, klien harus meningkatkan masukan protein dan karbohidrat dengan cukup untuk mencegah keseimbangan nitrogen negatif, hipoalbuminemia, dan penurunan berat badan. Status nutrisi merupakan akibat masukan tidak adekuat, mempengaruhi metabolik atau meningkatkan kebutuhan metabolik.
f. Status cairan dan elektrolit
- Klien dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektolit cenderung mengalami shock, hipotensi, hipoksia, dan disritmia, baik pada intraoperatif dan pascaoperatif. Fluktuasi valume cairan merupakan akibat dari penurunan masukan cairan atau kehilangan cairan abnormal.
g. Status emosi.
- Respon klien, keluarga dan orang terdekat pada tindakan pembedahan yang direncanakan tergantung pada pengalaman masa lalu, strategi koping, signifikan pembedahan dan sistem pendukung.
- Kebanyakan klien dengan pembedahan mengalami ancietas dan ketakutan yang disebabkan penatalaksanaan tindakan operasi, nyeri, dan immobilitas.
h. Pola eliminasi
- Masalah kebiasaan eliminasi urin pada klien BPH ( terganggu ).
- penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.

i. Pola istirahat tidur
- Sering terbangun pada malam hari untuk kencing.
- Klien merasa tidak nyaman.
j. Terapi dan diet.
Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara lain:
- Mengurangi makanan kaya lemak hewan.
- Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam makanan laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai).
- Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari.
- Berolahraga secara rutin.
- Pertahankan berat badan ideal.
k. Pemeriksaan Fisik ( hah to toe )
a) Kepala :
Biasanya pada klien dengan BPH tidak ada ke abnormalan kepala yang dikarenakan oleh pembesaran prostat.
b) Mata :
Tidak ada tampak ikterik.
c) Mulut dan gigi :
bibir kering, mukosa agak kering.
d) Thorax :
Auskultasi bunyi napas tambahan pada paasien BPH  pernafasan dada, simetris, Ronchi & whezing
e) Abdomen :
- Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
- Distensi kandung kemih
- Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik  retensi urine
- Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil  retensi urine
- Perkusi : Redup  residual urine

f) Pemeriksaan penis :
uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
g) Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur)  posisi knee chest
a. Syarat : buli-buli kosong/dikosongkan
b. Tujuan : Menentukan konsistensi prostat
Menentukan besar prostat.

l. Pengelompokan Data
Data subjektif Data Objektif
a. Klien mengeluh nyeri suprapubis, panggul.
b. Mengeluh kencing menetes ( retensi urine ).
c. Klien mengeluh tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil
d. Klien mengeluh urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
e. Klien merasakan nyeri pada waktu kencing.
f. Klien mengeluh mual / muntah. a. Klien tampak cemas.
b. Peninggian tekanan darah.
c. Demam.
d. Distensi kandung kemih
e. Penonjolan pada daerah supra pubik
f. Pada RT ditemukan Prostat membesar.


B. Diagnose Keperawatan
1. Retensi urine berhubungan dengan pembesaran prostat ditandai dengan ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih dengan lengkap.
2. Nyeri akut berhubungan dengan distensi kandung kemih ditandai dengan gelisah.
3. Ansietas berhubungan dengan prosedur pembedahan ditandai dengan peningkatan tegangan, ketakutan dan kekhawatiran.

4. Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual / muntah, hilangnya nafsu makan.
5. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vaskuler.
6. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive, alat selama pembedahan.


C. Intervensi
No Dx Tujuan / criteria hasil Intervensi Rasional
1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan menunjukkan kontinesia urine. Dengan criteria hasil :
- Bebas dari kebocoran urine diantara berkemih.
- Kandung kemih kosong sempurna
- Tidak ada sisa ssetelah buang air > 100-200 cc. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam Meminimalkan retensi urine distensi berlebihan pada kandung kemih.
Observasi aliran urine, perhatikan ukuran dan kekuatan. Berguna untuk mengevaluasi obstruksi dan pilihan intervensi.
Perkusi/palpasi area suprapubik. Distensi kandung kemih dapat dirasakan dia area suprapubik
Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih. Perhatikan penurunan haluaran urine dan perubahan berat jenis. Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas, yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal. Adanya deficit aliran darah ke ginjal mengganggu kemampuannya untuk memfilter dan mengkonsentrasi substansi.



Berikan rendam duduk sesuai indikasi. Meningkatkan relaksasi otot, penurunan edema, dan dapat meningkatkan upaya berkemih.
Berikan obat sesuai indikasi :
- Antispasmodic Menghilangkan spasme kandung kemih berhubungan dengan irigaasi oleh kateter.
Kateterisasi untuk residu urine dan biarkan kateter tak menetap sesuai indikasi. Menghilangkan atau mencegah retensi urine dan mengesampingkan adanya stricture uretra. Catatan dekompresi kandung kemih harus dilakukan dengan menambah 200 ml untuk mencegah hematuria ( rupture pembuluh darah pada mukosa kandung kemih yang terlalu distensi). Kteter coude diperlukan karena ujung lengkung memudahkan pasase selang melalui uretra prostat.
Urinalisa dan kultur Statis urinaria potensial untuk pertumbuhan bakteri. Peningkatan resiko ISK.
Balon uretroplasti / dilatasi transuretal prostat Inflasi balon ujung kateter dalam area terobstruksi mengubah letak jaringan prostat, sehingga memperbaiki aliran urine.





No Tujuan / criteria hasil Intervensi Rasional
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan nyeri menurun. Dengan criteria hasil :
- Melaporkan nyeri hilang /terkontrol
- Tampak rileks.
- Mampu untuk tidur / istirahat.
- Skala nyeri : ( 0-3 ).
- Klien tidak mengeluh kesakitan.
- TTV :
- N : 60-100x/mnt
- S : 36,5-37,5 Oc
- TD : 120/80 mmhg
- RR : 14- 20x / mnt Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas dan lamanya. Memberikan informasi untuk mambantu dalam menentukan pilihan / keefektifan intervensi.
Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdoment Mecegah penarikan kandung kemih.
Pertahankan tirah baring bila diindikasikan Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut. Namun, ambulasi dini dapat memperbaiki pola berkemih normal dan menghilangkan nyeri kholik.
Berikan tindakan kenyamanan, contoh; pijatan punggung, membantu pasaiaen melakukan posisi yang nyaman; mendorong penggunaan relaksasi/latihan napas dalam. Meningkatkan relaksasi , memfokuskan kembali perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
Masukkan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainase. Pengaliran kandung kemih menurunkan tegangan dan kepekaan kelenjar.
Berikan obat sesuai indikasi :
- Narkotik. Diberikan untuk menghilangkan nyeri berat, memberikan relaksasi mental dan fisik.
No Tujuan / criteria hasil Intervensi Rasional
3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 1 jam diharapkan ansietas berkurang. Dengan criteria hasil :
- Tampak rileks.
- Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani.
- Klien / keluarga memahami penyebab terjadinya cemas / ansietas.
Buat hubungan saling percaya dengan pasien/ orang terdekat. Menunjukkan perhatian dan keinginan untuk membantu. Membantu dalam diskusi tentang subjek sensitive.
Berikan informasi tentang prosedur dan test kusus dan apa yang akan terjadi, contoh; kateter, urine berdarah, iritasi kandung kemih. Ketahui seberapa banyak informasi yang diinginkan pasien Membantu pasien memahami tujuan dari apa yang dilakukan dan mengurangi masalah karena ketidaktauan termasuk ketakkuatan karena kangker.
Pertahankan prilaku nyata dalam melakukan prosedur. Lindungi privasi pasien. Menyatakan penerimaan dan menghilangkan rasa malu pasien.
Dorong pasien / orang terdekat utnuk menyatakan masalah/ perasaan. Mendefinisikan masalah, memberikan kesempatan untuk menjawab peertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi pemecahan masalah.
Beri penguatan informasi pasien yang telah diberikan sebelumnya. Memungkinkan pasien untuk menerima kenyatan dan menguatkan kepercayaan pada pemberi perawatan dan pemberian informasi.
No Tujuan / criteria hasil Intervensi Rasional
4 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan menunjukkan status nutrisi yang baik. Dengan criteria hasil :
- Berat badan dalam rentang yang normal.
- Mual muntah berkurang.
- BB normal ( 50-60 kg )
- Porsi makanan yang disediakan RS di habiskan.
Buat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian. Malnutrisi adalah kondisi gangguan minat yang menyebabkan depresi, agitan dan mempengaruhi fungsi kognotif/ pengambilan keptusan.
Berikan makan sedikit dan makanan kecil tambahan yang tepat. Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode puasa.
Buat pilihan menu yang ada dan izinkan pasien untk mengontrol pilihan sebanyak mungkin. Pasien yang meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan leih suka menyediakan makanan untuk makan.
Berikan terapi nutrisi dalam program pengobatan rumah sakit sesuai indikasi. Pengobatan masalah dasar tidak terjadi tanpa peerbaikan satutus nutrisi. Perawatan di rumah sakkit memberikan control lingkungan dimana masukan makanan, muntah/ eliminasi, obat dan aktivitas dapat dipantau.




No Tujuan / criteria hasil Intervensi Rasional
5
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan perdarahan berhenti dengan criteria hasil :
- Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil.
- N : 60-100x/mnt
- S : 36,5-37,5 Oc
- TD : 120/80 mmhg
- RR : 14- 20x / mnt
- Menunjukkan tak ada perdarahan aktif.
Awasi pemasukan dan pengeluaran. Indicator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantiaan. Pada irigasi kandung kemih, awasi pentingnya perkiraan kehilangan darah dan secara akurat mengkaji haluaran urine.
Observasi drainase kateter, perhatikan perdarahan berlebihan atau berlanjut. Perdarahan tidak umum terjadi selama 24 jam pertama tetapi perlu pendekatan perineal. Perdarahan continue atau berulangnya perdarahan aktif memerlukan intervensi / evaluasi medic.
Evaluasi warna , konsistensi urine contihnya :
- Merah terang dengan bekuan merah.

- Peningkatan viskositas, warna keruh gelap dengan bekuan gelap.
- Perdarahan dengan tak ada bekuan.

- Biasanya mengindikasikan perdarahan arterial dan memerlukan terapi cepat.
- Menunjukkan perdarahan dari vena ( perdarahan yang paling umum ) biasanya berkurang sendiri.
- Dapat mengindikasikan diskrasia darah atau masalah pembekuan sistemik.
Awasi tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan TD, diaphoresis, pucat dan membrane mokosa kering. Dehidrasi / hipovolemia memerlukan intervensi cepat untuk mencegah berlanjut ke syok. Catatan ; hipertensi, bradikardia, mual-muntah menunjukkan “ sindrom TURP” memerlukan intervensi medic segera.
Dorong pemasukan cairan 3000 ml/ hari kecuali kontraindikasi. Membilas ginjal/kandung kemih dari bakteri dan debris tetapi dapat mengakibatkan intoksikasi cairan berlebih bila tidak diawasi dengan ketat.
Awasi pemeriksaan laboraturium sesuai indikasi, contoh :
- Hb/Ht, jumlah sel darah merah.
- pemeriksaan koagulasi, jumlah trombosit.

- Berguna dlam evaluasi kehilangan darah.
- Dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi contoh: penurunan factor pembekuan.
Berikan pelunak feces, laksatif sesuai indikasi. Pencegahan konstipasi / mengejan untuk defekasi, menurunkan risiko perdarahan rectal perineal.


No Tujuan / criteria hasil Intervensi Rasional
6 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan tidak terdapat infeksi dengan criteria hasil :
- TTV Normal :
- N : 60-100x/mnt
- S : 36,5-37,5 Oc
- TD : 120/80 mmhg
- RR : 14- 20x / mnt
- Menunjukkan tak ada tanda-tanda infeksi.
Pertahankan system kateter steril; berikan peerawatan kateter regular dengan sabun dan air, berikan salep antibiotic di sekitar sisi kateter. Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi / sepsis lanjut.
Ambulasi dengan kantung darinase dependen. Menghindari reflek balik urine, yang dapat memasukkan bakteri ke dalam kandung kemih.
Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggogol, nadi dan pernapasan cepat, gelisah, peka disorientasi. Pasien yang mengalami sistoskopi dan atau TUR prostat berisiko untuk syok bedah / septic sehubungan dengan manipulasi / instrumentasi.
Berikan antibiotic sesuai indikasi Mungkin diberikan secara profilaktik sehubungan dengan peningkatan risiko infeksi pada prostatektomi.







D. Evaluasi
No. Dx Evaluasi Paraf
1 S : klien mengatakan urin tidak menetes lagi.
O :
- Tidak terlihat kebocoran urine diantara berkemih.
- Kandung kemih kosong sempurna
- Tidak ada sisa setelah buang air > 100-200 cc.
A : -
P : teratasi

2 S : klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.
O :
- Klien tampak rileks.
- Klien mampu untuk tidur / istirahat.
- Klien tidak mengeluh kesakitan.
- TTV :
- N : 60-100x/mnt
- S : 36,5-37,5 Oc
- TD : 120/80 mmhg
- RR : 14- 20x / mnt
A : -
P : teratasi

3 S : Klien melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani.
O :
- Klien tampak rileks.
- klien tampak memahami penyebab terjadinya cemas / ansietas.
A : -
P : teratasi
4 S : klien mengatakan mual muntahnya berkurang / hilang.
O :
- Berat badan klien dalam rentang yang normal.
- BB normal ( 60-70 kg )
- Tampak porsi makanan yang disediakan RS di habiskan.
A : -
P : teratasi
5 S : -
O :
- Tanda vital stabil.
- N : 60-100x/mnt
- S : 36,5-37,5 Oc
- TD : 120/80 mmhg
- RR : 14- 20x / mnt
- Tak ada perdarahan aktif.
A : -
P : teratasi
6 S : -
O :
- TTV Normal :
- N : 60-100x/mnt
- S : 36,5-37,5 Oc
- TD : 120/80 mmhg
- RR : 14- 20x / mnt
- Tak ada tanda-tanda infeksi.
A : -
P : teratasi

Readmore..
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com