Toko Buku Online Terlengkap
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Jiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juni 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI

| Minggu, 06 Juni 2010 | 0 komentar

BAB I
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR
I. Pengetian
Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga .Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima,dicintai,dihormati oleh orang lain,serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat,2006).

Menurut Erikson (1963 dikutip dari Potter dan Perry,2005),anak-anak kecil mulai mengembangkan rasa berguna dengan cara belajar untuk bertindak berdasarkan inisiatif mereka sendiri.Contoh seorang anak yang sangat pandai dalam mata pelajaran matematika akan merasa nyaman untuk mengerjakan soal-soal matematika dabandingkan dengan temannya yang lain.Hal ini dapat meningkatkan harga diri anak tersebut.Sebaliknya,bila seorang anak yang baru pindah kesekolah baru dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan teman sekelasnya,maka harga dirinya dapat menurun sampai anak tersebut mencapai kembali kepercayaan dirinya didalam lingkungan yang baru.
Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi.
Empat cara meningkatkan harga diri :
1. Memberi kesempatan berhasil
2. Menanamkan gagasan
3. Mendorong aspirasi
4. Membantu membentuk koping
Menurut Body (2005), individu yang memiliki harga diri yang positif akan lebih percaya diri unuk mencoba perilaku sehat yang baru dan sangat kecil kemungkinan untuk mengalami depresi. Sedangkan terhadap diri sendiri,hilang kepercayaan diri,dan merasa gagal mencapai keinginan. Pendapat ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Potter dan Perry (2005) bahwa seorang dengan harga diri yang tinggi cenderung menunjukkan keberhasilan yang dirahikan sebagai kualitas dan upaya pribadi. Ketika berhasil,seorang individu dengan harga diri yang rendah cenderung mengatakan bahwa keberhasilan yang diraihnnya adalah atas bantun orang lain dan bukan karena kemampuannya sendiri.individu yang harga dirinya rendah akan merasa tidak derdaya,frustasi,depresi,dan menjadi korban. Individu yang harga dirinya rendah sangat rentan terhadap tekanan akibat stres. Sementara itu, individu yang memiliki harga diri yang positif akan memperlihatkan keyakinan diri dan menunjukkan antusiasme pada suatu kegiatan dan dapat mengatasi rasa frutasi dengan baik.

Stuart dan Laraia (2001) menyatakan bahwa harga diri sangat terancam selama masa remaja. Pada masa ini harga diri remaja akan mengalami banyak perubahan,karena pada masa ini banyak keputusan yang baru dibuat remaja menyangkut dirinya sendiri. Remaja dituntut untuk menentukan pilihan sendiri,dan memutuskan apakah remaja mampu meraih sukses dibidang kegiatan yang dipilihnya, dan apakah remaja dapat berpartisipasi atau diterima diberbagai macam aktivitas sosial. Harga diri akan stabil pada masa dewasa dan dapat memberikan kejelasan pada gambaran diri individu dewasa. Karena pada periode ini,individu dewasa lebih mudah untuk menerima dirinya dan lebih idealis dibandingkan usia remaja. Individu dewasa mampu belajar untuk mengatasi segala kelemahannya dan mampu mengoptimalkan kekuatan yang ada pada dirinya. Pada lansia, gangguan harga diri akan muncul kembali karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia antara lain memasuki masa pensiun,kehilangan pasangan dan kelemahan fisik.

Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dapat terjadi secara:
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba,misalnya harus operasi,kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba}.
Gangguan pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena:
a) Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya: pemeriksaan fisik yangsembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal}.
b) Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
c) Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan. Kondisi ini banyak ditemukan pada gangguan fisik.
2. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadia sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.

B. LANDASAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Tanda dan gejala yang dapat dikaji:

1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya: malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker.
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : “ini tidak akan terjadi jika saya segera kerumah sakit,”menyalahkan/mengejek dan mengkritik diri sendiri.
3. Merendahkan martabat. Contoh : “saya tidak bisa”. “saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa”. Serta ”saya tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar.’
4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klein tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.
5. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan , misalnya tentang memilih alternatif tindakan.
6. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga , tidak berarti, dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri.
Berikut ini adalah gejala harga diri rendah :
a) Mengkritik diri sendiri
b) Perasaan tidak mampu
c) Pandangan hidup yang pesimis
d) Penurunan produktivitas
e) Penolakan terhadap kemampuan diri
Selain data diatas, perawat dapat juga mengamati penampilan seseorang dengan harga diri rendah, terlihat dari kurang memperhatikan perawtan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan kurang, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara lambat dengan nada suara lemah.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan data diatas, yang didapat melalui observasi, wawancara, atau pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber sekunder, maka perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien sebagai berikut :
1. Isolasi sosial menarik diri
2. Harga diri rendah
3. Depisit perawatan diri
4. Intoleransi aktivitas
5. Regimen Therapeutik efektif
6. Gangguan komunikasi verbal

3. TINDAKAN KEPERAWATAN
I. Tindakan keperawatan pada klien:
a. Tujuan
1. klien dapat mengidentifikasikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2. klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
3. klien dapat berlatih kegiatan yang telah dipilih, sesuai kemampuan
4. klien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai kemampuan
5. klien dapat merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya


2. Tindakan keperawatan:
1. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
- diskusikan bahwa klien masih memiliki sejumlah kemampuan dan aspek positif,
- beri pujian yang realistik/nyata dan hindarkan setiap kali bertemu kliendengan penilaian negatif
2. Membantu klien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan
- mendiskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan saat ini setelah mengalami bencana
- bantu klien menyebutkannya dan memberi kekuatan terhadap kemampuan dirinya
- perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengan yang aktif
3. Membantu klien dapat memilih/menetapkan kegiatan sesuai dengan kemampaun.
- mendiskusikan dengan klien beberapa aktifitas yang dapat dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan klien lakukan sehari-hari.
- bantu klien menetapkan aktivitas mana yang dapat klien lakukan secara mandiri, mana aktivitas yang memerlukan bantuan minimal dari perawat dan aktivitas mana yang menggunakan bantuan penuh.
4. Melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai kemampuan
- mendiskusikan dengan klien untuk menerapkan urutan kegitan (yang sudah dipilih klien) yang akan dilatihkan.
- bersama klien dan keluarga memperagakkan beberapa kegiatan yang akan dilakukan klien.
- berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang diperlihatkan klien.
5. Membantu klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuannya dan menyusun rencana kegiatan.
- memberikan kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah di latihkan.
- beri pujian atas aktivitas/kegiatan yang dapat dilakukan klien setiap hari.
- tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap aktifitasnya
- susun daftar kegiatan yang sudah dilatih bersama klien dan keluarga
- beri kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan
- yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan klien

2. Tindakan keperawatan pada keluarga
b. Tujuan:
1. keluarga dapat menmbantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
2. keluarga mempasilitasi aktivitas klien yang sesuai kemampuan
3. keluarga memotivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan latihan yang dilakukan, dan memberikan pujian atas keberhasilan klien
4. keluargamampu menilai perkembangan perubahan kemampuan klien
b. Tindakan keperawatan:
1. jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang ada pada klien.
2. diskusikan dengan keluarga kemampuan yang dimiliki klien dan memuji klien atas kemampuannya .3. anjurkan keluarga untuk memotivasi klien dalam melakukan kegiatan yang sudah dilatih klien dan perawat
4. ajarkan keluarga cara mengamati perkembangan perubahan perilaku klien.

4. EVALUASI
1. Kemampuan yang diharapkan dari klien:
a. Klien dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
b. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat di kerjakan
c. Klien dapat melatih kemampuan yang dapat di kerjakan
d. Klien dapat membuat jadwal harian
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kegiatan harian
2. Kemampuan yang di harapkan oleh keluarga
a. mengidentifikasi kemampuan klien
b. menyediakan fasilitas untuk klien untuk klien dapat melakukan kegiatan
c. mendorong klien melakukan kegiatan
d. memuji klien saat klien dapat melakukan kegiatan
e. membantu melatih klien
f. membantu penyusunan jadwal kegiatan klien
g. memantau perkembangan klien

BAB II
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Ruang Rawat : Bukit barisan Tanggal dirawat : 07-10-09

I. DENTITAS
a. Inisial : Tn. H (L/P) Tgl Pengkajian : 15 oktober 2009
b. Umur : 35 tahun RM : 00 01 80
c. Informasi : Klien dan status

II. ALASAN MASUK
Klien sering bingung, suka melamun, suka menyendiri, tidak mau mandi, ketawa sendiri, mondar-mandir di tempat dan klien pernah melakukan pemukulan terhadap diri sendiri.

III. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu? ( √ ) Ya ( ) Tidak
2. Pengobatan sebelumnya. ( ) Berhasil ( √ ) Kurang berhasil ( ) Tidak berhasil
3. Perilaku Pelaku/usia Korban/usia Saksi/usia
a. Aniaya fisik (........./.......) (........./.......) (........./.......)
b. Aniaya seksual (........./.......) (........./.......) (........./.......)
c. Penolakan (........./.......) (........./.......) (........./.......)
d. Kekerasan dalam keluarga (........./.......) (........./.......) (........./.......)
e. Tindakan Kriminal (........./.......) (........./.......) (........./.......)
Jelaskan No. 1,2,3: Klien pernah mengalami gangguan jiwa dan di rawat di RSJ, Karena tidak minum obat, klien kambuh lagi dari ruangan bukit barisan ke RSJ Medan
Masalah Keperawatan: Regimen terapiutik inefektif
4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?
( ) Ya ( √ ) Tidak
Hubungan Keluarga Gejala Riwayat Pengobatan/perawatan
............................... ............................... ...............................
............................... .............................. ...............................
............................... ............................... ...............................
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan yang di temukan
5. Pengalaman masalalu yang tidak menyenangkan:
Klien menyatakan kecewa terhadap keluarganya, karena tidak peduli dengannya.
Masalah Keperawatan: Harga diri rendah

IV. FISIK
1. Tanda Vital : TD:120/80 mmhg N80x/i S 36oC P 20x/ menit
2. Ukur: TB195 cm BB 55 kg
3. Keluhan Fisik: ( ) Ya ( √ ) Tidak
Masalah Keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan


V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram
Ket:
Orgtua lakilaki
Orgtua perempuan
Klien



Jelaskan : Klien anak ke 7 dari 7 bersaudara, ke-1 perempuan dan sehat, ke-2 laki-laki sehat, ke-3 laki-laki sehat, ke-4 perempuan dan sehat, ke-5 laki-laki sehat, ke-6 laki-laki sehat, ke-7 laki-laki yang menderita gangguan jiwa. Keluarga memasukkan ke RSJ medan karena dijauhi keluarga dan disingkirkan oleh orang lain.

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.
2. Konsep Diri
a. Gambaran Diri: Klien merasa senang dengan tubuhnya, terutama bagian wajahnya dan badannya,.
b. Identitas: Klien merasa tidak puas dengan dirinya
c. Peran: Klien menyatakan kecewa dengan dirinya karena tidak dapat melaksanakan peran sebagai anak.
d. Ideal Diri: Klien menyatakan ingin menjadi orang yang sukses dan ingin cepat sembuh.
c. Harga diri: Klien jarang bersosialisasi dengan tetangganya karena klien merasa terasing karena mengalami gangguan jiwa.
Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri, harga diri rendah.
3. Hubungan Sosial:
a. Orang yang berarti: Orang tuanya atau ibunya
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/sosial: peran serta dalam kegiatan pokok/sosial: klien jarang ikut dalam kegiatan kelompok/ masyarakat.
c. Hambatan dalam hubungan dengan orang lain: Kurang percaya diri terhadap diri sendiri, karena klien lebih suka diam.dan mengatakan malu bergaul dengan orang lain
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.

VI. STATUS MENTAL
1. Penampilan
( √ ) Tidak rapi ( ) Penggunaan pakaian tidak sesuai ( ) Berpakaian tidak seperti biasanya
Jelaskan : Klien tidak rapi, baju klien terlihat terbalik, kusam, kotor, rambut kusut dan kuku terlihat kotor
Masalah Keperawatan : Defisit perawatan diri.
2. Pembicaraan
( ) Cepat keras ( ) Gugup ( ) Inkoheren
( ) Apatis ( √ ) Lambat ( ( Membisu
( ) Tidak mampu mulai pembicaraan
Jelaskan : Klien selama berkomunikasi secara kontak mata, klien menjawab dengan lambat.
Masalah keperawatan : Gangguan Komunikasi Verbal.

3. Aktivitas Motorik
( ) Lesu ( ) Tegang ( ) Inkoheren ( ) Agitasi
( ) Tik ( ) Grimasem ( √ ) Tremor ( ) Kompulsip
Jelaskan : Tangan Klien gemetar saat diajak bersalaman, dan pada saat beraktifisa klien tampak tremor.
Masalah Keperawatan : Gangguan aktivitas motorik/intoleransi aktivitas.
4. Alam perasaan :
( √ ) sedih ( ) ketakutan ( ) putus asa ( ) gembira
Jelaskan : Klien merasa keluarga tidak peduli dengannya dan klien terlihat sedih karena berada di RSJ medan.
Masalah Keperawatan : Harga diri rendah.
5. Afek
( √ ) datar ( ) tumpul ( ) labil ( ) tidak sesuai
Jelaskan : ekspresi wajah klien datar, klien kadang-kadang termenung.
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.
6. Interaksi selama wawancara
( ) bermusuhan ( √ ) tidak kooperatif ( ) mudah tersinggung
( ) curiga` ( ) defenitif ( ) kontak mata kurang
Jelaskan : Klien tampak tidak kooperatif saat di ajak berbicara kontak mata (-) suka menunduk
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.
7. Persepsi halusinasi
( ) pendengaran ( ) penglihatan ( ) perabaan
( ) pengecapan ( ) penciuman
Jelaskan : Klien tidak mengalami halusinasi terbukti dengan klien tidak melihat/mendengar suara-suara yang aneh.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.
8. Proses pikir
( ) sirkumtansia ( ) tangensial ( ) kehilangan asosiasi
( ) flig if ideas ( ) bloking ( ) pengulangan pembicaraan
Jelaskan : Selama wawan cara klien dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan topik pembicaraan.
Masalah keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan.
9. Isi pikir
( ) obsesi ( ) fobia ( ) hipokondria
( ) derpersonalisasi ( ) ide yang terkait pikiran magis
Waham :
( ) agama ( ) somatik ( ) kebesaran ( ) curiga
( ) nihilistik ( ) sisip pikir ( ) siar pikir ( ) kontrol pikir
Jelaskan :
klien tidak ada masalah dalam dalam gangguan waham
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.
10. Tingkat kesadaran
( ) bingung ( ) sedasi ( ) stupor disorientasi
( ) waktu ( √ ) tempat ( ) orang
Jelaskan
Klien tau bahwa ia berada di RSJ Medan
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.
11. Memori
( ) gangguan daya ingat jangka panjang
( ) gangguan daya ingat saat ini konfabulasi
Jelaskan : Klien masih ingat kejadian yang ia alami masa lalu dan sekarang.
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
( ) mudah beralih ( ) tidak mampu berkonsentrasi
( ) tidak mampu berhitung sederhan
Jelaskan: Klien mampu berhitung 20-100
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan yang ditemukan.
13. Kemampuan penilaian
( ) gangguan ringan ( ) gangguan bermakna
Jelaskan : Klien dapata membedakan antara kotor dan bersih..
Masalah keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan..
14. Daya tilik diri
( ) mengingkari penyakit yang diderita ( ) menylahkan hal diluardirinya
Jelaskan : Klien tidak menunjukkan adanya gangguan daya tilik diri.
Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.



VII. KEBUTUHAN PERSONAL
1. Makan
( √ ) bantuan minimal ( ) bantuan total
2. Bak / Bab
( √ ) bantuan minimal ( ) bantuan total
3. Mandi
( √ ) bantuan minimal ( ) bantuan total
4. Berpakaian / berhias
( √ ) bantuan minimal ( ) bantuan total
5. Intirahat tidur
( ) tidur siang lama : 14-00 s/d 15-00 WIB
( ) tidur malam : 20-00 s/d 05-00 WIB
6. Penggunaan obat
( √ ) bantuan minimal ( ) bantuan total
7. Pemeliharaan Kesehatan
Ya Tidak
Keperawatan lanjutan ( √ ) ( )
Sistem pendukung ( √ ) ( )
8. Kegitan didalam rumah
Ya Tidak
Mempersiapkan makanan ( ) ( √ )
Menjaga kerapian rumah ( ) ( √ )
Mencuci pakaian ( ) ( √ )
Pengaturan uang ( ) ( √ )
9. Kegiatan diluar rumah
Ya Tidak
Belanja ( ) ( √ )
Trnfortasi ( ) ( √ )
Lain-lain ( ) ( √ )
Jelaskan : Klien malas keluar rumah dan bergaul dengan orang lain.
Masalah keperawatan : Isolasi sosial menarik diri

VIII. MEKANISME KOPING
Adaptif Maladaptif
( √ ) berbicara dengan orang lain ( √ ) minum alkohol
( ) mampu menyelesaikan masalah ( √ ) reasksi lambat
( ) tehnik relaksasi ( ) berkerja berlebihan
( ) aktivitas konstruktif ( ) menghindar
( √ ) olah raga ( ) menciderai diri
( ) lainnya
Masalah keperawatan : Koping Individu inefektik.

XI. MASALAH PSIKOLOGI SOSIAL
a. Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik
Klien merasa teman nya menghindar/menjauhi dirinya setelah sakit.
b. Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik:
Klien tidak terima berada di RSJ Medan
c. Masalah dengan pendidikan, spesifik Klien tamatan SMU
d. Masalah dengan pekerjaan, spesifik
Klien pernah bekerja di suatu pabrik dan sekarang sudah berhenti
e. Masalah dengan perumahan, spesifik
Klien tinggal bersama orang tua, rumah milik peribadi
f. Masalah dengan ekonomi, spesifik
Klien memiliki masalah ekonomi yang cukup dan biaya pengobatan di tanggung oleh orang tua.
g. Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik
Klien tidak mempunyai masalah dengan pelayanan kesehatan..
h. Masalah lainnya, spesifik
Masalah keperawatan : Gangguan hubungan sosial menarik diri.

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG
( √ ) penyakit jiwa ( √ ) sistem pendukung
( ) faktor presipitasi ( ) penyakit fisik
( √ ) Koping ( √ ) obat-obatan
( ) Lainnya
Masalah keperawatan: Koping individu inefektif .

XI. ASPEK MEDIK
Diagnosa medik : Skizoprenia Paranoid episode berulang
Terapi Medik: Cparpromazin 100 mg 3x1
Trihexyphenidry 2 mg 2x1
Halopheridole 5 mg 2x1
1. CPZ (Cparpromazin)
Indikasi: untuk sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi mental, waham halusinasi, gangguan perasaan, perilaku yang aneh dan tidak terkendali, berdaya berat dalam kehidupan sehari-hari tidak mau bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
Komposisi: Tiap tablet mengandung Clorpromazine HCL 25 mg, Clorpromazine 5 mg
2. THP (Trihexyphenidry)
Indikasi: sekala jenis penyakit parkinson, termasuk ensepalitis dan indiopatik, sindrom prankinson akibat obat misalnya reserpina dan fenitiazine.
Komposisi: tiap tablet mengandung Trihexyphenidril hidroklorida 2 mg
3. HLP (Halopheridole)
Indikasi: berdaya berat dalam menilai kemampuan realita dan fungsi nertal serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari.
Komposisi: Tiap tablet mengandung 0,5 mg Haloperidol,
DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi sosial menarik diri
Harga diri rendah
Defisit perawatan diri
Intoleransi aktivitas
Gangguan komunikasi perbal

ANALISA DATA
DATA MSALAH
SUBJEKTIF:
Klien mengatakan tidak suka berada di rumah sakit jiwa.
Klien mengatakan takut dengan teman-temannya.
OBJEKTIF:
Klien suka melamun,
Klien tampak sedih,
Klien suka menyendiri.

SUBJEKTIF:
Klien mengatakan malu saat wawancara dengan perawat
Klien mengatakan malu untuk bergabung dengan teman-temannya
OBJEKTIF:
Klien menunduk saat menjawab pertanyaan perawat
Kontak mata kurang menjawab pertanyaan perawat

SUBJEKTIF:
Klien mengatakan malas mandi
Klien mengatakan tidak ada sabun mandi
OBJEKTIF:
Klien tampak kotor
Rambut tidak pernah di sisir
Pakaian tampak kotor Isolasi sosial menarik diri
Harga diri rendah
Defisit perawatan diri
POHON MASALAH

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Isolasi sosial menarik diri
2. Harga diri rendah
3. Defisit perawatan diri

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

No Diagnosa keperawatan Rencana tindakan keperawatan
1. Isolasi sosial menarik diri
Strategi pertemuan I
1. mengidentifikasi penyebab isolasi sosial (teman yang disukai, yang tidak disukai, alasan)
2. menyebutkan keuntungan dan kerugian dari interaksi dari orang lain
3. latih perkenalan dengan orang lain
4. masukan jadwal kegitan klien
Strategi pertemuan II
1. mengevaluasi latiahan I
2. melatih hubungan secara bertahap ( 1dan 2 orang).
3. masukkan jadwal kegiatan klien
Strategi pertemuan III
1. mengevalusi latihan 1-2
2. mngedentifikasi kemampuan klien melatih klien melakukan aktifitas yang berhubungan dengan orang lain
4. masukkan jadwal kegiatan klien
Strategi pertemuan IV
1. evaluasi latihan 1,2,3
2. jelaskan kegunaan obat
3. melatih klien minum obat dengan prinsip 5 benar
4. masukkan jadwal kegiatan klien


No Diagnosa keperawatan Rencana tindakan keperawatan
2. Gangguan konsep diri: Harga diri rendah Strategi pertemuan I
1. mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2. membantu klien menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan
3. membantu klien dalam memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan klien
4. melatih klien sesuai kemampuan yan g dipilih
5. memberikan pujian terhadap keberhasilan klien
6. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan
Strategi pertemuan II
1. Mengawasi jadwal kegiatan harian klien
2. melatih kemampuan klien
3. mennganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan klien
3 Defisit perawatan diri Strategi pertemuan I
1. menjelaskan pentingnya kebersihan diri
2. menjelaskan cara menjaga kebersihan diri
3. membantu klien mempratekkan cara menjaga kebersihan diri
4. mengenjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
strategi pertemuan II
1. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
2. menjelskan cara makan yang baik
3. membantu klien mempraktekan cara makan yang baik
4. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
strategi pertemuan III
1. megevaluasi jadwal kegiatan kien
2. menjelaskan eleminasi yang baik
3. membantu klien mempraktekkan cara eliminasi yang baik dan memasukkan dalam jadwal
4. menganurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
strategi pertemuan IV
1. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
2. menjelaskan cara berdandan
3. membantu klien mempraktekan cara berdandan
4. menganjurkan klien memasukkan jadwal kegiatan harian

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama/Inisial klien : tuan H
Ruangan : Bukit barisan
Strategi Pertemuan dengan Klien Gangguan Isolasi Sosial menarik diri
1. Kondisi Klien
Tuan H (35Tahun) selama dirawat diruangan bukit barisan tampak berdiam diri, klien suka melamun dan duduk dibawah tempat tidur klien menghindar bila ada yang mendekatinya saat dikaji oleh perawat tn h menyatakan putus asa sama keluarganya
2. Diagnosa keperawatan
ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI
3. Tujuan:
1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
2. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain
3. klien mampu mengidentifikasi kemampuan yang dapat dilakukannya
4. klien dapat mengisi jadwa yang diberkan suster
4. Tindakan keperawatan
• mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
• menyebutkan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
• melatih perkenalan dengan orang lain
• melatih berhubungan secara bertahap
• mengidentifikasi kemampuan klien
• melatih klien melakukan aktivitas yang berhubungan dengan orang lain
• menjelaskan penggunaan obat
• masukkan jadwal kegiatan klien

5. Fase pelaksanaan tindakan
a. orientasi
1. salam terapiutik
selamat pagi pak, boleh suster duduk disini?
Perkenalkan nama suster safitri dari PSIK Delihusada Delitua, nama bapat siapa ya? Enaknya di panggil apa? Oh bapak halomoan ya..
2. Evaluasi/validasi
Bagaimana keadaan bapak hari ini? Apa yang meyebabkan bapak datang kemari?
3. Kontrak
1. Topik:
Pak, bisakan kita bercakap-cakap sebentar untuk membahas masalah bapak?
2. waktu:
Bapak bisanya berapa lama?
3. Tempat:
Bapak maunya kita bercakap-cakap di mana

b. Fase Kerja
• mengidentifikasi penyebab isolasi sosial
baiklah pak, sekarang ceritankan dengan suster, apa yang menyebabkan bapak sampai kemari? Ohh begitu ya pak!!
Bapak punya gak teman yang paling disukai, kenapa pak!!
Lalu apa bapak juga punya teman yang tidak disukai dan apa alasannya pak??
• menjelaskan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
bapak tau gak, keuntungan bila kita berinteraksi dengan orang lain??
Wahh bagus itu pak!!, selain yang bapak bilang tadi masih banyak lagi pak keuntungannya. Misalnya bapak bisa tukar pikiran, nambah temen dan yang pasti bapak tidak sendirian laigi pak!!
Kalau kerugian berinteraksi dengan orang lain?? Ya bagus pak!!
Kerugiannya Cuma sedikit pak, misalnya dia tidak ada waktu, bapak suster ajarkan cara berkenalan dengan orang lain??
• Melatih berkenalan dengan orang lain
Begini pak , kalau bapak mau berkenalan dengan orang lain, pertama-tama bapak dekati dia, lihat wajahnya, lalu bapak sebutkan nama bapak sambil menjabat tangannya dan bapak tanya nama dia lagi ini ya pak saya contohkan perkenalkan nama saya safitri nama kamu siapa??
Bapak mengertikan? Cuma bapak ulangi seperti yang suster praktekkan tadi,, wahh bagus ya pak!!
• melatih berhubugan secara bertahap
tadikan bapak sudah berkenalan dengan temen bapak. Dan pastinya sudah tau namanya kan??, nah sekarang bapak mesti berkenalan dengan satu atau 2 orang pak. begini ya pak suster ajarkan perkenalkan nama saya safitri nama bapak siapa?? Lalu bapak tanya lagi teman sebelahnya kemudian bapak langsung berbincang-bincang dengan mereka pak!! bapak mengertikan??
• mengidentifikasikan kemampuan klien
nah sekarang suster mau tanya, bapak biasa hobinya apa selama di rumah.
Ohh, bapak bisa mencuci piring ya pak.
• melatih klien melakukan aktifis yang berhubungan dengan orang lain
tadikan bapak katakan kalau bapak itu mampu mencuci piring nah bapak dapat melakukan kegiatan itu pak
nantikan jam makan siang, nantikan bapak yang mencuci pirng??
Sambil bapak mencuci piring, bapak bisa becakap-cakap bersama temen bapak, bapak mengertikan ??
• menjelaskan kegunaan obat
sekarng suster akan menjelaskan kegunaan obat bapak tau apa giunanya obat.
Wah bagus pak .
Selain yang bapak bilang tadi masih banyak lagi pak yaitu penyembuhan, pengobatan, kecantikan dan masih banyak lagi pak,
Dalam minum oabat ada 5 prinsip yang harus diperhatikan yaitu: 1 benr klien. bapak harus tau dulu bahwa obat tersebut untuk bapak dengan melihat tulisan seperti di mangkuk ini, mengertikan pak!!
Yang ke dua benar obat, tadikan udah tertulis nama bapak, dan bapak ambil obat yang sesuai dengan yang dikatakan suster, misalnya CPZ maka bapak hanya mengambil cpz bukan yang lainnya pak. yang ke tiga benar cara, bapak harus tau cpz itu di minum bukan di kunyah pak.. yang ke empat benar dosis, misalnya tertulis 2x1 maka bapak minumnya yaitu 2 tablet dalam 1 hari, kalau diminum pagi yang pertama kemudian sore nanti yang ke duanya, begitu pak.. kemudian yang ke lima benar waktu, kalau misalnya bapak minum obatnya jam 08-00 pagi maka bapak nanti 08-00 malam harus mimunnya lagi..
”apakah bapak mengerti dengan yang suster jelaskan??”
Bagus kalau begitu
• masukkan jadwak kegiatan
ini pak suster berikan jadwal, diisi ya pak.

c. Terminasi
1. Evaluasi respon klien
a. Evaluasi klien
”bagaimana, perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang”
b. Evaluasi perawar/objektif
”coba bapak ulangi apa yang sudah kita bicarakan”
”wah bagus kalua begitu”
2. Tindak Lanjut
”pak apa yang kita bicarakan tadi dikerjakan ya pak!! Dan jadwalnya jangan lupa diisi ya pak!!
3. Kontrak
”baiklah pak, karena waktunya udah habis maka kita sudahi dulu ya pak !! besok suster akan datang lagi untuk membantu bapak dalam mangatasi harga diri rendah yang bapak alami, apakah bapak bersedia??
Jam berapa ya pak,, bapak maunya di mana??
Baiklah pak besok disini jam 10’00 pagi kita akan berbincang-bincang lagi tentang masalah harga diri rendah bapak.. selamat pagi pak..

Strategi pertemuan dengan klien Gangguan Konsep diri: Harga diri rendah
1. Kondisi klien tn H 35 tahun klien sering bingung dan suka melamun dan suka menyendiri
2. Diagnosa keperawatan
HARGA DIRI RENDAH
3. Tujuan
• klien dapat mengidentifikasikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
• klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
• klien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai kemampuan
• klien dapat berlatih kegiatan yang sudah dipilih sesuai kemampuan klien selanjutnya klien dapat merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya
4. Tindakan keperawatan
• mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
• membantu klien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan
• membantu klien dapat memilih/menetapkan kegiatan sesuai dengan kemampuan
• melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai dengan kemampuan
• membantu klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuannya dan menyusun rencana tindakan.


5. Fase Pelaksanaan tindakan keperawatan
a. Orientasi
1. salam terapiutik
- Selamat pagi pak, ”sesuai dengan janji kita kemaren kitakan mau bincang-bincang lagi untuk hari ini, bapak masih ingatkan nama suster
”bagus kalau begitu”..
2. Evaluasi?validasi
”bagaimana keadaan bapak hari ini??
Bapak sehatkan??
3. Kontrak
Topik: kemaren suster mau berbincang –bincang tentang maslah bapak yaitu tentang harga diri rendah,
”bapak ingat gak:?
Iya bagus,!!
Waktu: bapak maunya berapa lama kita bincang-bincangnya nanti??
Tempat: kalau menurut bapak enaknya bincang-bincangnya di mana??
4. Kerja
Bapak kita akan bincang-bincang tentang kegemaran bapak..! tapi sebelumnya saya mau tanya dulu, boleh pak??
Kenapa bapak selalu merenung??
Dan kalau di tanya selalu merunduk dan menghindar?
Bapak kalau bisa coba untuk tetap tersenyum dan tidak merengut terus, pasti bapak kelihatan tambah jilena!! Tuh kan ganteng!!
Dan kalau ada yang bertanya bapak harus menjawabnya, bapak gak usah takut karena tidak ada yang menyalahkan bapak??
Bapak sudah mengerti??
Bapak mau melakukannya??
Baiklah .. sekarang tegakkan kepala bapak, kemudian jawab pertanyaan saya”
Pak kalau boleh saya tau, apa saja yang menjadi kegemaran bapak??
Wah.. banyak sekali ya pak??
Diantara yang bapak sebutkan semua tadi, manalah yang paling bapak sukai??
Baik pak sekarnga kita akan membuat jadwal kegiatan bapak-bersama-sama, nanti di sini bapak bisa menulis kegiatan bapak sehari-hari,”
Ni kertasnya pak!!
Bapak bisa mengisikegiatan bapak sehari-hari
b. Terminasi
1. evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi klien (sabjektif)
”bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang??
Evaluasi klien (Objektif)
”bapak bisa ulangi apa yang sudah kita ajarkan??
Wah bagus sekali..

2. Tindak lanjut
Nanti bapak bisa mengisi segala kegiatan di buku tadi, biar bapak tidak termenung terus, ya pak
3. Kontrak
Baiklah pak hari ini kita cukupkan dulu perbincangan kita, besok saya akan ke sini lagi, untuk berbincang-bincang lagi dengan bapak mengenai masalah bapak yaitu defisit perawatan diri.
Maukan bapak ??
Sebaiknya jam brapa besok kita jumpa lagi ya pak??
Baik lah kalau begitu saya akan ke sini lagi besok??
Selamat pagi pak..

Strategi Pertemuan dengan klien Defisit Perawatan diri
1. Kondisi klien
Tuan H Umur 35 tahun, selama di rawat di ruangan bukit barisan klien tapak kotor, bau badan(+) baju tidak diganti (seminggu sekali) rambut acak-acakan pakai baju terbalik..
2. Diagnosa keperawatan
DEFISIT PERAWATAN DIRI
3. Tujuan
1. klien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri
2. klien mampu berdandan/berhias secara baik
3. klien mampu melakukan makan dengan baik
4. klien mampu melakukan BAK/BAB secara mandiri
4. Tindakan Keperwatan
1. melatih klien cara melakukan kebersihan diri
- menjelaskan pentingnya kebersihan diri
- menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri
- menjelaskan cara kebersihan diri
- melatih klien cara menjaga kebersihan diri

5. Proses pelaksanaan tindakan
a. Orientasi
1. Salam terapiutik
- Selamat pagi pak, ”sesuai dengan janji kita kemaren kitakan mau bincang-bincang lagi untuk hari ini, bapak masih ingatkan nama suster
”bagus kalau begitu”..
2. Evaluasi?validasi
”bagaimana keadaan bapak hari ini??
Bapak sehatkan??
3. Kontrak
Topik: kemaren suster mau berbincang –bincang tentang maslah bapak yaitu tentang Defisit perawatan diri,
”bapak ingat gak:?
Iya bagus,!!
Coba suster mau tanya dulu??
Waktu: bapak maunya berapa lama kita bincang-bincangnya nanti??
Tempat: kalau menurut bapak enaknya bincang-bincangnya di mana??

4. Fase kerja
1. melatih klien cara-cara perawatan kebersihan diri
kalau menurut bapak kalau mandi itu kita harus bagaimana??
Sebelum mandi apa yang harus kita persiapkan?
Wah benar sekali,
Bapak perlu menyiapkan pakaian ganti seperti, handuk, pakaian ganti, sikat gigi, sampo, dan sabun serta sisir.
Bagaimana kalau sekarang kita praktekkan ke kamar mandi?? Dan suster akan membimbing bapak melakukannya.
Sekarang bapak siram seluruh tubuh bapak termasuk rambut kemudian ambil sampo, gosokkan kekepala bapak samapai berbusa kemudian bilas sampai bersih,
Sikat gigi pakai odol ya pak...
Kemudian bersikan mulut sama air, kumur-kumur
Iya..bagus..
Kemudian siram air keseluruh tubuh, lalu sabunan, gosok seluruh tubuh.. kemudian bilas kembali
Nah setelah ini baru dikeringkan dengan menggunakan handuk..
Iya.. bagus sekali ,,
Ini kemudian sisiran, menggunakan sisir
2. melatih klien berdandan/berhias
sekarang apa yang bapak lakukan setelah mandi,
apakah bapak menyisir rambut??
Kalau begitu bagai mana cara bersisir??
Iya bagus ..
Coba cara memakai baju!!
Iya bagus sekali bapak ternyata bisa!!
Apakah bapak sering bercukur??
Iya bagus....
c. terminasi
1. Evaluasi respon klien
a. evaluasi klien
bagaimana perasaan pak lomo setelah berdandan.??
b. evaluasi perawat/objektif
Coba bapak sebutkan cara berdandan yang baik sekali lagi??
Wah bagus sekali pak!!!
2. Tindak lanjut
Selanjutnya bapak setiap setiap hari harus mandi, kemudian praktekkan apa yang sudah saya ajarkan tadi..
Dan masukkan kejadwal kegiatan bapak ya!!
3. Kontrak,
Baiklah sekarang mungkin sampai disi dulu dan kita akan bertemu kembali?? Selamat pagi menjelasng siang pak......

BAB III
PEMBAHASAN
I. Tahap Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian,penulis mengalami sedikit kendala dikarenakan klien sulit untuk diajak berkomunikasi. Untuk mendapatkan data yang lengkap,penulis melakukan pengkajian dalam. Dari hasil 3 hari.
Setiap melakukan komunikasi, klien selalu berusaha untuk menghindar, berbicara seperlunya dan selalu diam. Untuk memenuhi data yang kurang lengkap,maka penulis melihat dari status klien dan bertanya dengan keluarga klien pada saat keluarga klien mengunjungi klien di RSJ.

II. Tahap Diagnosa
Dalam menegakkan diagnosa, penulis mengobservasi klien secara langsung dan melihat status klien. Dari hasil observasi klien selalu berusaha menghindari dari perawat, kontak mata kurang, suka menyendiri, berbicara seperlunya dan klien mengatakan dirinya tidak berguna. Berdasarkan data diatas maka penulis menyimpulkan terdapat 3 diagnosa yang diderita klien yaitu :
- Ganguan isolasi : menarik diri
- Gangguan konsep diri harga diri rendah
- Depisit perawatan diri

III.Tahap Perencanaan
Dalam perencanaan penulis melakukan rencana tindakan asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa. Dalam hal perencanaan penulis melakukan berbagai strategi pertemuan kepada klien yang berlansung selama 1minggu. Setiap pertemuan akan dilakukan asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa.

IV.Tahap Implementasi
Dalam menjalankan tindakan asuhan keperawatan penulis hanya mengimplementasikan tiga diagnosa keperawatan yaitu : gangguan isolasi sosial menarik diri, gangguan konsep diri : harga diri rendah dan depisit perawatan diri. Hal ini dikarenakan pada saat diobservasi secara mendalam.
V. Tahap Evaluasi
Setelah melakukan implementasi, perawat dapat melihat hasil dari tindakan asuhan keperawatan, klien menunjukkan dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitranya. Klien mau diajak berkomunikasi, melakukan aktivitas di RSJ, dan mau berkomunikasi dengan teman seruangnnya.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
I. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan pengkajian asuhan keperawatan pada klien isolasi sosial menarik diri di ruangan bukit barisan RSJ Medan, dapat di ambil kesimpulan:
1. Menarik diri adalah usaha menghindari interaksi dengan orang lain, individu tersebut merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tindakan mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan pikiran, prestasi atau kegagalan:
2. Klien dengan menarik diri mempunayai tingkah laku: tidak nafsu makan kurang bergairah aktifitas menurun, ekspresi wajah kurang berseri
3. Mekanisme koping yang sering digunakan pada menarik diri adalah koping yang berkaitan dengan kepreribadian anti sosial dan koping berhubungan dengan gangguan keperibadian “Borderline”
4. Setelah diberikan pengobatan klien sudah mampu mengontrol emosi dan rasa menarik dirinya dengan perlahan-lahan

II. Saran
1. kepada tim kesehatan yang ada di rumah sakut jiwa supaya dapat meningkat kan kerjasama. Agar prosses keperawatan dapat tercapai seoptimal mungkin dan memberikan keterampilan kepada kllien untuk mengisi hari2 yang telah di lewati klien di ruangan agartidak sering melamun
2. diharapkan kepada keluarga dan perawat yang menerapkan pendekatan diri dalam mengarahkan klien menujukesembuhan pada klien yang sudah di rehabilitasi untuk selalu memriksakan secara teratur dan tidak menghentikan keperawatan, nasehat dari dokter.
3. bagi keluarga dan perawat diharapkan dapat menghindar klien dari berbagai stiuasi yang dapat menimbulkan kembali gangguan/gejala dari penyakit.
diharapkan kepada keluarga dan perawat agar tetap mengawasi anak dari lingkungan mansyarakat upaya kesembuhan klien.

Readmore..

Askep Skizofrenia

A. Konsep Dasar Skizofrenia
1. Pengertian
Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46).

2. Penyebab
a. Keturunan
Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ).

b. Endokrin
Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.

c. Metabolisme
Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik.

d. Susunan saraf pusat
Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan.

e. Teori Adolf Meyer :
Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).

f. Teori Sigmund Freud
Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.

g. Eugen Bleuler
Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).

h. Teori lain
Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.

i. Ringkasan
Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ).

3. Pembagian Skizofrenia
Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain :
a. Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.

b. Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak sekali.

c. Skizofrenia Katatonia
Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.

d. Skizofrenia Paranoid
Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.

e. Episode Skizofrenia akut
Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.

f. Skizofrenia Residual
Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia.

g. Skizofrenia Skizo Afektif
Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.

Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik
1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ;
1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized).
2. Tidak terdapat wamam yang sistemik
3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol – tololan.

2. Gejala Klinik
Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa :
- Inkoherensi yang jelas
- Afek datar tak serasi atau ketolol – tololan.
- Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.
- Waham / halusinasi yang terpecah – pecah isi temanya tidak terorganisasi sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran penyerta yang sering di jumpai.
- Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar.
- Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial.
- Berbagai perilaku tanpa tujuan.

Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan – pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial terjadi paling hebat di banding tipe yang lain.


Konsep Dasar Halusinasi
1. Pengertian
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata, misalnya : klien menyatakan mendengar suara. Padahal tidak ada orang yang bicara.

2. Proses terjadinya halusinasi
Fase pertama
Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang memuncak dan tidak dapat di selesaikan, klien mulai melamun dan memikirkan hal – hal yang menyenangkan cara ini hanya menolong sementara.

Fase kedua
Kecemasan meningkatkan, menurun dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol.

Fase ketiga.
Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengotrol klien, Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.

Fase keempat
Halusinasi berubah menjadi mengancam memerintah dan memarahi klien, klien menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak berdaya, hilang dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan

3. Tanda – tanda halusinasi
Menurut diri, tersenyum sendiri duduk terpaku, bicara sendiri memandang satu arah, menyerang tiba – tiba, arah gelisah.

4. Jenis halusinasi
a. Halusinasi dengar
Dengar suatu membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam tetapi tidak ada sumbernya disekitarnya.

b. Halusinasi terlihat
Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapi klien yakin ada.

c. Halusinasi penciuman
Menyatakan mencium bau bunga kemenyan yang tidak dirasa orang lain dan ada sumber.

d. Halusinasi kecap
Merasa mengecap sesuatu rasa di mulut tetapi tidak ada.

e. Halusinasi raba
Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada.

PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Isi pengkajian meliputi :
1. Identitas klien
2. Keluhan utama/alasan masuk
3. Faktor predisposisi
4. Dimensi fisik / biologis
5. Dimensi psikososial
6. Status mental
7. Kebutuhan persiapan pulang
8. Mekanisme koping
9. Masalah psikososial dan lingkungan
10. Aspek medik
Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga melalui wawancara perawatan disebut data subyektif.
Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah : Penyebab (kausa), masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini diharapkan dapat memudahkan perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan

Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Tujuan Umum :
Klien tidak mencederi diri sendiri dan atau orang lain / lingkungan.
Tujuan khusus :
1. Klien dapat hubungan saling percaya :
a. Bina hubungan saling percaya
- Salam terapeutik
- Perkenalan diri
- Jelaskan tujuan interaksi
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik, waktu dan tempat berbicara).
b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.
c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.

2. Klien dapat mengenal halusinasinya
a. Lakukan kontak sering dan singkat
rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya.

b. Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang kesekitarnya seolah – olah ada teman bicara.

c. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya;
- Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa yang dikatakan ?
- Katakan bahwa perawat percaya klien mendengarnya.
- Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien.
- Katakan bahwa perawatan akan membantu klien.

d. Diskusikan dengan klien tentang ;
- Situasi yang dapat menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi.
- Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang sore, malam atau bila sendiri atau bila jengkel / sedih).

e. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang) dan berkesempatan mengungkapkan perasaan.
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang dilakukan bila terjadi halusinasi (tidur/marah/menyibukkan diri)
b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila bermanfaat beri pujian.
c. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi :
- Katakan “saya tidak mau dengan kamu” (pada halusinasi).
- Menemui orang lain (perawat / teman / anggota keluarga untuk bercakap – cakap . mengatakan halusinaasinya.
- Membuat jadwal kegiatan sehari – hari agar halusinasi tidak sempat muncul.
- Meminta orang lain (perawat / teman anggota keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri.
d. Bantu klien memilih dan melatih cara memutus / mengontrol halusinasi secara bertahap.
e. Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil.
f. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi persepsi).

4. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol halusinasinya :
a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi.
b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung / pada saat kunjungan rumah)
- Gejala halusinasinya yang dialami klien
- Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-luarga untuk memutus halusinasi
- Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama
- Berikan informasi waktu follow up atau kapan perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol dan resiko mencederai orang lain.

5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik :
a. Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat.
b. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat merasakan manfaatnya.
c. Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan.
d. Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi.
e. Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu)

Tujuan Umum :
Klien dapat melakukan komunikasi verbal
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien.

b. Jangan membantah dan mendukung waham klien.
- Katakan perawat menerima : saya menerima keyakinan anda, disertai ekspresi menerima.
- Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi saya untuk mempercayainya disertai ekspresi ragu dan empati.
- Tidak membicarakan isi waham klien.

c. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung.
- Gunakan keterbukaan dan kejujuran
- Jangan tinggalkan klien sendirian
- Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak sendirian.

2. Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki
a. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realitas.
b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
c. Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari – hari)
d. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai waham tidak ada.

3. Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi :
a. Observasi kebutuhan klien sehari – hari.
b. Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah / di RS.
c. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien (buat jadwal aktivitas klien).

4. Klien dapat berhubungan dengan realitas :
a. Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri orang lain, tempat, waktu)
b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok: orientasi realitas
c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.

5. Klien dapat dukungan keluarga :
a. Gejala waham.
b. Cara merawatnya.
c. Lingkungan keluarga.

6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar
- Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat penghentian.
- Diskusikan perasaan klien setelah minum obat
- Berikan obat dengan prinsip 5 tepat

Tujuan Umum :
Klien mampuan merawat diri sehingga penampilan diri menjadi adekuat
Tujuan Khusus :
1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri
a. Dorong klien mengungkakan perasaan tentang keadaan dan kebersihan dirinya.
b. Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan empati.
c. Beri pujian atas kemapuan klien mengungkapkan perasaan tentang kebersihan dirinya.
d. Diskusi dengn klien tentang arti kebersihan diri
e. Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri.

2. Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan dirinya.
a. Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang kebutuhan perawatan diri klien
b. Diskusikan dengan keluarga
c. Motivasi keluarga dalam berperan aktif memenuhi kebutuhan perawatan diri klien.
d. Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan keluaga

Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap
Tujuan Khusus :
1.1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
a. Bina hubungan saling percaya
- Salam terapeutik
- Perkenalan diri
- Jelaskan tujuan interaksi
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Bina kontrak yang jelas (topik, waktu, tempak).
b. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita
c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d. Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab Serta mampu menolong dirinya sendiri.

1.1. Klien dapat mengindetifikasi kemampuan dan aspek positf yang memiliki
a. Diskusikan kemampuan dan aspek yang di miliki klien. Dapat dimulai dari bagian tubuh yang masih berfungsi dengan baik, kemampuan lain yang dimiliki oleh klien, aspek positif (keluarga, lingkungan) yang dimiliki klien. Bila klien tidak mampu mengindetifikasi maka dimulai oleh perawat memberi pujian terhadap aspek positif klien.
b. Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif. Utamakan memberikan pujian yang realistis.

1.1. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
a. Diskusikan selama sakit
Misal : penampilan klien dalam “self care”, latihan fisik dan ambulasi serta aspek asuhan terkait dengan gangguan fisik yang dialami klien.
b. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaanya setelah plan sesuai dengan kondisi sakit klien.

1.1. Klien dapat menetapkan / merencakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki :
a. Rencanakan bersama klien aktivitas bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total.
b. Tingkatkan kegiatan sesuai degan tolerasi kondisi klien
c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan (kadang klien takut me laksanakannya).

1.1. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuan.
a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b. Beri pujian atas keberhasilan klien
c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.


1.1. Klien dapat menfaatkan sistem pendukung yang ada
a. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah
b. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
c. Bantuan keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

Readmore..
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com